Krisis Aturan di UIN, Kader HMI ‘Kepung’ Rektorat

1462258407068

HMI ketika menduduki rektorat UIN Alauddin Makassar | Dok

Makassar, LiputanLIMA.com – Krisis demi krisis perlahan menyelimuti ruang ilmiah bernama kampus. Kampus sebagai piranti aparatus ideologi negara idealnya menjadi corong pembangunan demokratisasi dan gagasan revolusi mental pemerintah.

Kondisi ini mendorong Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sejajaran UIN Alauddin Makassar untuk menggelar aksi unjuk rasa memperingati Hari pendidikan nasional, Selasa (3/05/2016) di UIN Alauddin.

Gerakan massa aksi yang menamakan aksinya HMI UIN Alauddin Peduli, mendesak pimpinan kampus untuk mewujudkan demokratisasi sistem kehidupan kampus. Salah satunya meminta rektor agar mencabut aturan yang melarang mahasiswa baru untuk mengikuti organisasi dan meminta rektor untuk mengeluarkan surat edaran pelarangan pengadaan pernak pernik ujian skripsi, seperti parcel dan bingkisan konsumtif lainnya.

“Hari pendidikan nasional ini merupakan momentum bagi HMI untuk turut berikhtiar berkontribusi atas perubahan kondisi perguruan tinggi, yang semakin hari jauh dari nilai – nilai demokratis khususnya UIN Alauddin Makassar,” ujar Satria, Koordinator Lapangan aksi, sesaat massa aksi menduduki gedung rektorat.

Empat dari delapan HMI Komisariat yang ada di UIN tergabung dalam aksi ini antara lain, HMI Komisariat Adab & Humaniora, Komisariat Dakwah & Komunikasi, Komisariat Syariah & Hukum serta Komisariat Ilmu Kesehatan.

Dalam pernyataan sikapnya mereka juga meminta rektor UIN Alauddin agar mengevaluasi dan mereorientasi character building program yang tidak selaras dengan kondisi akademik dan iklim dunia organisasi kemahasiswaan. Hal tersebut diutarakan oleh Andi Alfian, ketua bidang PTKP Hmi komisariat Adab & Humaniora.

“Dari hasil kajian kami, output dan outcome CBP ternyata belum menunjukkan hasil yang signifikan. Buktinya, alumni CBP banyak yang mengalami nilai yang anjlok, juga ada yang melakukan perbuatan kriminal,” tutur alfian yang akrab disapa Jeko, saat beraudience dengan perwakilan pimpinan kampus.

Jika tak ada aral merintang aksi ini akan kembali digelar dan mengajak seluruh komponen lembaga kemahasiswaan dengan tuntutan yang sama.

Arya Wicaksana | Citizen Journalism


Kirim naskah berita seputar organisasi Anda atau info kejadian menarik lainnya ke redaksi@liputanlima.com disertai dengan nama penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *