Ammar Bugis, Jurnalis Saudi Berdarah Bugis. Lumpuh tapi Hafizh 30 Juz, ini kisahnya!

Syekh Ammar Bugis (int)

Mekah, LiputanLIMA.com – Syekh Ammar Bugis, demikian para Ulama dunia menyapa namanya, dilahirkan di Amerika Serikat pada 22 Oktober 1986. Bernama lengkap Ammar Haitsam Bugis.

Namanya sengaja diberikan kata Bugis, karena diadopsi dari nama kakek buyutnya yang berasal dari suku Bugis Sulawesi Selatan, yaitu Syeikh Abdul Muthalib Bugis. Yang kemudian memutuskan untuk hijrah ke Mekah dan menjadi guru Tafsir di Masjidil Haram.

Sejak usia dua bulan ammar sudah lumpuh total. Kaki, tangan, bahkan kepalanya pun tak mampu menoleh ke kiri dan ke kanan. Tapi namanya kian harum di kanca dunia, setelah berbagai prestasi gemilang yang diraihnya.

Dibalik segala keterbatasan fisik yang Ammar miliki, Ia tetap besemangat menuntut ilmu menghalangi segala rintangan dan tetap ingin menjadi berarti, sebagaimana manusia normal lainnya.

Bahkan Ia sudah menghafal al Quran sejak 11 tahun dan diselesaikannya hafalannya 30 juz hanya dalam urung waktu 2 tahun saja. Padahal dirinya dulu telah divonis oleh dokter, bahwa umurnya tidak akan lebih dari 2 tahun.

Atas kehendak Allah Swt, ia pun deberi usia panjang, lebih dari jangka usia yang divoniskan oleh dokter, bahkan kini sudah sampai berkepala tiga.

Nilai rapornya dulu pun selalu istimewa saat ia berkesempatan sekolah bersama anak anak normal lainnya di Amerika sampai kelas III SD. Karena kendala pada kondisi tubuhnya yang tidak normal dan rentang sakit, Ammar kerapkali tak masuk sekolah, tapi pihak sekolah pun memakluminya dan mengutus guru untuk mengajarinya di rumahnya dari beberapa pelajaran yang tertinggal.

Ammar kemudian mengikuti Ayahnya kembali ke Arab Saudi selepas sang Ayah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Amerika.

Di Arab Saudi Ammar malah tidak lagi bersekolah di lembaga formal, karena tidak ada satu sekolah pun yang mau menerimanya, dengan alasan tak mampu memberikan perhatian khusus terhadap kondisi tubuhnya yang tidak sempurna.

Padahal, Ammar tetap bertekad ingin belajar di sekolah formal sebagai mana anak anak yang lain pada umumnya.
Kakek Ammar pun tak berputus asa sebagai mana dirinya yang senantiasa gigih.

Sang kakek kemudian berhasil meyakinkan salah satu kepala sekolah dan akhirnya diperbolehkan mengikuti pendidikan dengan sistem Home schooling, keluarganya pun sepakat, walau sebelumnya sempat ditawari untuk belajar di Sekolah Luar Biasa (SLB).

Sekian lama Menekuni belajarnya di rumah, akhirnya Ammar membawakan hasil yang sangat memuaskan untuk keluarganya, Ia pun berhasil lulus SMA dengan nilai rata-rata 96 dari 100.

Karena cita citanya ingin menjadi seorang jurnalis dan ingin membuktikan bahwa orang yang cacat secara fisik dan berkebutuhan khusus mampu untuk sukses di berbagai bidang, Ammar pun melanjutkan jenjang pendidikannya di King Abdul Aziz University pada jurusan Jurnalistik dan berhasil meraih predikat cumlaude dengan nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) 4,84 dari angka maksimal 5.

Usai menyelesaikan kuliahnya, Ammar kemudian diterima menjadi wartawan olahraga Harian Al Madinah yang terbit di Jeddah, dan kolumnis Harian Ukaz terbitan Riyadh. Ia juga diterima menjadi dosen di Universitas Dubai sambil meneruskan pendidikan magisternya di kampus yang sama atas beasiswa Pangeran Uni Emirat Arab, Hamdan bin Muhammad bin Rasyid Al Maktum Al Fazza. Setelah memenuhi undangannya di Dubai.

Sebelumnya, putra mahkota Uni Emirat Arab yang dijuluki ‘Fazza’ itu sempat melihat film Ammar di You Tube, saat bertemu pertamakali dengan Ammar, Fazza mengatakan, “Ketika saya melihat tayangan film tentang anda, saya merasa rendah dan belum berbuat sesuatu amal pun. Wahai Ammar selama saya masih diberi Allah umur panjang maka saya akan terus mendukungmu sampai salah satu dari kita berdua menemui ajalnya,” ujarnya.

Ammar kemudian rampung menulis otobiografinya yang berjudul “Qohir Al Mustahil” (Penakluk Kemustahilan) dan telah diterbitkan oleh penerbit Republika edisi terjemahan Indonesianya.

Buku yang berisikan biografi kehidupan Ammar penuh dengan pelajaran, motivasi dan inspirasi. Sehingga buku tersebut patut dibaca oleh seluruh kalangan, terlebih lagi para pendidik, peserta didik, orang tua, aktivis sosial, Da‘i, pejabat, wartawan dan Penulis.

Ammar juga sesekali berkunjung ke Indonesia untuk menebar motivasi dan inspirasi kepada khayalak masyarakat Indonesia, bahkan telah tayang eksklusif di berbagai stasiun Tv nasional.

Salah satu video tentangnya yang diunggah di You Tube menyampaikan motivasi yang sangat bermakna dan disampaikannya dengan berbahasa Indonesia. berikut isi perkataanya.

“Satu harapan saya kepada Allah Swt, mau sepuluh detik saja untuk bersujud kepada Allah dan kembali berbaring, dan harapan saya, mau membuka al Qur’an dengan tangan saya sendiri,” katanya diatas kursi keretanya.

Dari kisah Syekh Ammar Haitsam Bugis si Penakluk Kemustahilan inilah, memberikan banyak pelajaran dan inspirasi.

Dan sungguh, Allah memberikan keajaiban kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, demikian pula kata pepatah, segala sesuatu yang kurang mempunyai kelebihan, maka janganlah meremehkan segalanya yang kekurangan, karena pasti dibalik kekurangannya ada kelebihan. (Ilham)

Berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *