Ponpes Muhammadiyah Punnia, Gelar Penamatan dan Perpisahan XX

Suasana penamatan dan perpisahan pondok pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Punnia Labumpung Pinrang

Suasana penamatan dan perpisahan pondok pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Punnia Labumpung Pinrang, Sabtu (14/5/2016) | Dok

Pinrang, LiputanLIMA.com – Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Arqam Muhammadiyah Punnia Labumpung Kecamatan Mattiro Bulu Kabupaten Pinrang dibawah Direktur Pondok Ustadz Drs Zubair Zainal, kembali melakukan penamatan dan perpisahan XX bagi santri dan santriwati sebanyak 75 orang  yang terdiri dari Madrasah Aliyah (MA) 26 orang dan Madarasah Tsanawiyah (MTs) 49 orang.

Kegiatan ini mengangkat tema “Bencana Ilmu adalah Lupa” yang dihadiri oleh PD Muhammadiyah Pinrang serta Penasehat PDM, mantan Pimpinan Pondok, Ketua Dewan Pembina, para orang tua santri dan santriwati, ustadz dan ustadzah dan undangan lainnya, (14/5/2016).

Ustadz Zubair dalam sambutannya mengatakan, penamatan tahun ini merupakan yg ke-20 sejak ponpes ini kembali menerima santri pada tahun 1992 dan menamatkan alumni pada tahun 1998 setelah sempat vakum beberapa tahun sejak berdirinya. Ponpes Muhammadiyah Punnia telah banyak melahirkan tokoh-tokoh lokal maupun nasional.

“Kalau dulu pesantren dengan fasilitas seadanya mampu melahirkan tokoh-tokah besar, sudah seharusnya alumni tahun ini adalah alumni yang siap menjadi tokoh-tokoh yang lebih besar,” katanya.

“Kami mengharapkan kepada anak-anakku sekalian, apa yang telah didapatkan di ponpes ini dijadikan bekal untuk menjadi manusia-manusia yang  rahmatan lil alamin. Jangan dilupakan segala ilmu yang sudah didapatkan selama enam tahun disini, asah terus dengan belajar agar semakin menajam, sehingga dapat berguna bagi agama, bangsa dan persyarikatan Muhammadiyah,” tambah Ustadz Zubair.

Salah seorang dari orang tua santri juga menyampaikan rasa syukur dan terima kasihnya dengan memasukkan anaknya ke pesantren Muhammadiyah Punnia, karena dirinya yakin anaknya pasti akan dididik dengan baik dan dibekali ilmu agama serta pengetahuan umum.

“Saya merasa senang dan nyaman, karena anak saya betah tinggal di pesantren, andaikan dia sekolah diluar pasti saya akan merasa was-was terus dengan pergaulannya begitu juga sekolahnya, sampai jikah itu di sekolah atau tidak,” jelas orang tua santri yang enggan disebutkan namanya.

Nirwana Latif, salah satu santri yang telah merasakan pahit manisnya mondok selama enam tahun mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada para ustadz dan ustadzah yang telah membimbingnya selama ini dan mengatakan, penamatan dan perpisahan tahun ini bukanlah akhir dari segalanya. “Justru ini merupakan awal perjuangan kami bersama para ustadz dan ustadzah untuk umat, bangsa dan negara serta persyarikatan Muhammadiyah,” terangnya.

“Saya mewakili teman-teman yang lain menyampaikan terima kasih dan permohonan maaf kami selama ini kepada pada ustadz dan ustadzah, kami sadar kadang kami berprilaku nakal, bandel, susah diatur, tapi ustadz dan ustadzah senantiasa bersabar dengan kelakuan kami dan tetap membina kami,” kenang Nirwana.

Sulaiman | Citizen Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *