Hebat, Mahasiswa Ini Temukan Pengganti Biopelumas

6797-mahasiswa-ugm-olah-minyak-jelantah-jadi-biopelumas

Mahasiswa UGM mengolah minyak jelantah jadi biopelumas | Dok

Djogja, LiputanLIMA.com – Patut mendapat jempol, lantaran para mahasiswa ini berhasil menemukan sumber energi baru.

Adalah Yehezkiel Steven Kurniawan, Yudha Ramanda, Nover Arumenta Sihotang, Hendra, dan Kevin Thomas, mahasiswa dai Universitas Gadjah Mada,  Fakultas MIPA UGM, berusaha mengembangkan biopelumas dari minyak jelantah.

 “Dalam minyak jelantah masih terdapat kandungan asam oleat yang bisa dimanfaatkan sebagai biopelumas,” jelas Steven, Selasa (17/5/2016).

Steven menyebutkan pelumas merupakan salah satu produk olahan minyak bumi. Namun demikian, pelumas yang berasal dari minyak bumi ini tidak ramah lingkungan karena sulit terurai dan bersifat toksik jika dibuang langsung ke lingkungan. Oleh sebab itu, dewasa ini banyak dikembangkan pelumas dari minyak tumbuhan (biopelumas) seperti minyak kedelai, minyak jarak dan minyak kelapa sawit.

“Kami mencoba membuat biopelumas dari minyak jelantah dengan melakukan modifikasi untuk menstabilkan asam oleat di dalamnya terhadap oksidasi dan tidak menyebabkan korosi pada mesin,” terangnya.

Dari hasil uji sifat fisikokimia dari produk modifikasi struktur asam oleat, yaitu senyawa ketal siklik 1 dan 2, diketahui bahwa angka asam total (TAN) dari kedua produk ketal siklik lebih kecil daripada asam oleat dan pelumas komersial.

Hasilnya mengindikasikan tingkat korosi yang disebabkan menjadi lebih minimal. Selain itu, terjadi penurunan angka iodin (IV) kedua produk ketal siklik jika dibandingkan dengan asam oleat dan pelumas komersial yang mengindikasikan adanya peningkatan kestabilan biopelumas terhadap oksidasi.

Produk ketal siklik yang dikembangkan oleh mahasiswa UGM melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian (PKM-PE) ini tidak hanya mampu meminimalkan korosi dan meningkatkan kestabilan biopelumas akan oksidasi. Namun demikian, bisa juga menjadi alternatif pelumas yang bersifat terbarukan.

(*/Suryani Musi)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *