Guru vs Murid Marak Terjadi, Akbar Faizal Akan Temui Menteri Anies Baswedan

Akbar Faizal | Dok

Akbar Faizal | Dok

Makassar, LiputanLIMA.com – Perseteruan yang terjadi antara guru dan murid marak terjadi di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan.

Beberapa hari terakhir, masyarakat Sulsel dihebohkan dengan dua kasus yang menyebabkan dan berujung pada pemidanaan kepada sang guru karena orang tua murid tidak ingin berdamai.

Atas kasus ini, begitu banyak kalangan yang bersimpati atas kejadian ini. Salah satunya Anggota DPR RI Fraksi Partai Nasdem, Akbar Faizal.

Pria berdarah Wajo itu memberikan perhatian khusus terhadap kejadian tersebut, dalam akun facebook pribadinya ia menulis kronologi kejadian yang menimpa salah satu guru di Kabupaten Selayar dan telah ditahan di Rutan.

Berikut catatan anggota DPR RI Komisi III itu :

Setelah Nurmayani, kini Muhammad Arsal

Kasus penahanan guru atas sebuah tindakan ‘kekerasan’ terhadap siswa didiknya yang berakibat penahanan badan terhadap guru terjadi lagi. Setelah Nurmayani di Bantaeng, kini terjadi atas diri Muhammad Arsal guru agama Islam SMPN 3 Benteng Selayar, Sulsel.

Pengaduan Muliati Mastura Yusuf, kakak kandung Arsal kepada saya tadi pagi, guru yg terangkat pada 2006 disebuah sekolah di Desa Buki Kec Bontomatene yang selanjutnya dipindah ke SMPN 3 Benteng Ibukota Kab Selayar per 2015 ini ditahan Polres pada tgl 7-27 April 2016 yang diperpanjang hingga 12 Mei. Pada 12 Mei malam hari, dipindahkan ke Rutan Selayar sampai sekarang.

Kejadiannya, pada 24 Feb 2016, Arsal mengajari siswanya tata cara sholat termasuk siswa bernama Israq. Namun Israq membuat ulah yang menimbulkan ‘ribut’ dan mengganggu siswa lainnya. Guru Arsal kesal dan memukul Israq.

Terdapat dua versi disini. Kata Muliati kakak kandung Arsal, guru yang jaga pengidap sakit paru-paru ini ‘hanya’ menempeleng. Tapi kata Didik Agus Suroto, Kajari Selayar asal Bangkalan Madura yang sudah 2 tahun bertugas di Selayar yang saya hubungi untuk mencari tahu info ini, bukti visum et repertum membuktikan jika terjadi pemukulan yang membuat luka di bagian mulut.

“Sekarang sudah kami limpahkan ke pengadilan negeri,” kata Didik tadi pagi via phone kepada saya.

Kapolres Selayar AKBP Said Annah yang juga saya hubungi tadi pagi juga mengiyakan kasus ini. Perwira muda angkatan 97 Akpol asal Aceh ini menjelaskan berbagai upaya mediasi yang sudah dilakukan Polres namun pihak orang tua siswa Israq menolak.

Sayangnya PGRI sebagai induk dari Arsal tidak melalukan sesuatu untuk menghindarkan kasus ini masuk ke ruang sidang pengadilan.

Dalam sepekan publik khususnya Sulsel diramaikan kasus guru vs murid hingga ke meja pengadilan. Saya tak tahu apa yang sedang terjadi dengan dunia pendidikan kita.

Jika saja saya lebih cepat masuk ke ruang sidang paripurna DPR-RI tadi pagi maka saya ingin menginterupsi agar kita tersadarkan ada sesuatu yang terjadi di sistem pendidikan kita.

Sayangnya pimpinan sidang langsung menutup sidang paripurna setelah Menteri Keuangan selesai menyampaikan nota keuangan makro. Tapi saya berencana bertemu dengan sohib saya Anies Baswedan Menteri Pendidikan Nasional untuk membahas ini agar tak terjadi lagi dikemudian hari.

Salah satu tawaran saya adalah Mendiknas, Kapolri, Kejaksaan Agung untuk duduk satu meja. Pilihan diskresi perlu dipikirkan yakni “Mekanisme Mediasi” jika terjadi hal yang seperti ini dan “Penahanan Luar” jika memang ternyata kasusnya berlanjut ke meja persidangan pengadilan.

Seperti halnya saat saya mencoba mencari jalan keluar kasus Nurmayani Salam di Bantaeng, saya juga meminta Kapolres Selayar dan Kajari Selayar untuk membantu memediasi agar Guru Muhammad Arsal bisa mendapat penahanan luar terutama karena dia menderita paru-paru basah.

Saya akan memantau kasus ini atas nama konstitusi yang diletakkan dipundak saya sebagai wakil rakyat.

(Asrul)

One Comment

Andi Patoppoi

Eloko maga siruntu Anies Baswedan…. cukup Dinas Pendidikan setempat, PGRI dan DPRDnya dan yang lainnya juga klo mau…, segera bentuk Tim untuk memastikan bahwa kasus itu bukan KRIMINALISASI. Kalo terbukti kasus ini mengada-ada alias Kriminalisasi, maka barulah orang Pusat yang bertindak….. Tapi kalo kasusnya memang fakta dan disertai bukti-bukti yang valid…, maka siapapun harus berhadapan dengan Hukum termasuk Guru………
Justru seharusnya Gurulah yang harus mencontohkan ttg penegakan Hukum….. Bhw ada prilaku anak yg beraneka macam pada anak usia sekolah itu sangatlah WAJAR…., dan disinilah diharapkan guru punya kreasi dan inovasi utk menghadapi situasi apapun di lingkungan sekolah…, dan bukan CUBITAN dan PUKULAN solusinya………. Dan harus dipahami bhw yg berkasus bukanlah profesi Guru melainkan oknum/pribadi yg kebetulan adalah Guru….!!!!!

Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *