Miris…!! Begini Curhatan Quraisy Mathar Tentang Kondisi UIN Alauddin Makassar

UIN Alauddin | Int

UIN Alauddin | Int

Makassar, LiputanLIMA.com – Begitu banyak permasalahan yang dihadapi oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar membuat beberapa kalangan turut prihatin.

Salah satunya datang dari Kepala Pusat Perpustakaan UIN Alauddin Makassar, Quraisy Mathar.

Melaui akun facebook pribadinya, Quraisy Mathar menyampaikan “curhatannya” yang diberi judul Bagaimana Ini? seperti di bawah ini :

Bagaimana ini?

Kemarin saya copas status kawan di wa tentang pencurian motor yg marak kembali. Perparkiran dan sistem keamanan yg tak beres.

Lalu bagaimana kabar pagar yg di sudut Fak. Dakwah & Komunikasi? Masihkah ada celah di sana? Lalu bagaimana kabar juga dgn tangga di pagar depan Fak. Adab & Humaniora? Sekarang malah sudah model tangga rumahan.

Bagaimana juga dgn jalanan yg masih saja tetap berlubang, khususnya yg dari sudut Fak. Sainstek sampai depan gedung perpustakaan? Itu adalah jalur tetap para guru besar dan pejabat yg akan mengajar di pasca sarjana.

Anehnya, koq tdk tersentuh dgn kondisi jalan yg hanya sekitar 100 meter tersebut. Bagaimana juga dgn pintu 2 kampus yg oleh warga Samata justru sudah menjadi terminal bentor.

Bagaimana dgn taman di antara masjid dan perpustakaan? Beberapa waktu lalu, saya sudah berbicara dgn salah satu penyedia layanan seluler yg siap membranding lokasi tsb sebagai tempat wificorner.

Sayangnya, lokasi tsb tdk steril dari pedagang liar. Dulu pernah ada himbauan utk tdk berjualan, namun efektif hanya 3 hari terlaksana. Setelah itu, lokasi dagangan di sana semakin marak tuh. Dan saya akhirnya pending dulu rencana wificorner tsb.

Bgm juga dgn kambing, sapi, anjing, kucing, dsb. Saya yakin, hewan-hewan tsb bukan merupakan bagian dari proses pembibitan prodi peternakan. Semua merupakan hewan “liar” yg ikut berkampus setiap hari. Bgm kabar cleaning service kita, apakah sudah ada Fakultas atau unit yg puas dgn kinerjanya?

Lalu kuakhiri dgn pertanyaan “bagaimana dgn perpustakaan?”. Sudahkah para pejabat betul-betul punya kepedulian thdnya. Saat menghadiri pelantikan Kepala Perpustakaan Nasional, menteri pendidikan Anies Baswedan berkata silahkan memotong seluruh anggaran unit dalam kemendiknas, kecuali perpustakaan. Lalu sepulang dari acara pelantikan tsb, saya justru mendapati angka-angka baru yg telah direvisi dengan “memotong” anggaran perpustakaan UINAM sebesar 300 juta lebih.

Andai saja Anies Baswedan tahu, tentu dia akan sangat sedih. Jadi…. bgm dgn ini semua, bgm dgn kita semua? Sudah cukup rasanya waktu utk sekedar merenung, berpikir dan mengevaluasi, sebab data-datanya sudah sangat-sangat komprehensif. Sekarang waktunya utk langsung bertindak saja.

Bagaimana?

(Asrul)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *