Kemiskinan di Desa Makin Parah, Caketum HIPMI Sulsel Ini Anggap Tantangan Bagi Pengusaha Muda

Herman Heizer bersama dengan Bupati dan Wakil Bupati Gowa. Ist

Herman Heizer bersama dengan Bupati dan Wakil Bupati Gowa. Ist

Makassar, LiputanLIMA.com – Ketua HIPMI Kota Makassar, Herman Heizer ikut prihatin dengan indeks kemiskinan yang diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru ini. Tingkat kemiskinan yang terjadi pada wilayah perdesaan di Indonesia pada periode Maret 2016 semakin dalam dan parah.

Menurut kandidat Ketua Umum HIPMI Sulsel ini, kondisi tersebut ikut menjadi tanggung jawab para pengusaha muda, termasuk yang di Sulsel.

“Ini tantangan. Para pengusaha muda jangan hanya berpusat dan bertumpu di kota-kota saja. Mereka harus ikut terpanggil untuk menggeliatkan ekonomi mikro di desa-desa,” terang Herman, Rabu 20 Juli 2016.

Dalam konteks makro, Herman berharap sentuhan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bisa lebih tajam diperuntukkan pada pengurangan ketimpangan.

“APBN itu instrumen kuat untuk mengurangi kemiskinan. Pertanyaannya, apakah pemerintah memiliki kemauan politik mempertajam alokasi anggaran untuk itu?” tegas Direktur Utama Celebes Research Centre ini.

Bukan itu saja, programnya juga harus jelas. Jangan sekedar program pemberdayaan masyarakat saja tapi target maupun hasilnya tidak konkret. Kemiskinan di desa yang semakin parah menunjukkan program pemberdayaan yang sudah ada saat ini bisa jadi belum tepat sasaran,” pungkas Herman.

Kepala BPS, Suryamin menyatakan, Indeks Kedalaman Kemiskinan naik dari 1,84 pada September 2015 menjadi 1,94 pada Maret 2016. Indeks Keparahan Kemiskinan naik dari 0,51 menjadi 0,52 pada periode yang sama.

Sedangkan untuk wilayah perdesaan, Indeks Kedalaman Kemiskinan naik dari 2,40 menjadi 2,74 dan Indeks Keparahan Kemiskinan naik dari 0,67 menjadi 0,79.

Pada wilayah perkotaan Indeks Kedalaman Kemiskinan justru turun dari 1,29 menjadi 1,19 dan Indeks Keparahan Kemiskinan naik dari 0,35 menjadi 0,27.

Ada tiga faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Pertama adalah garis kemiskinan desa cukup tinggi, seiring dengan inflasi yang sulit dikendalikan.

Kedua, orang yang tinggal di perdesaan lebih banyak mengkonsumsi produk yang berasal dari kota. Misalnya mi instan, susu, dan produk lainnya.

Ketiga, yaitu pembelian barang dilakukan secara eceran. Sehingga membuat harga menjadi lebih mahal dibandingkan pembelian dalam jumlah besar.

(Rilis)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *