Idris Syukur Sang Penyabar

Arief Saleh. Dok LiputanLIMA

Arief Saleh. Dok LiputanLIMA

Oleh : Arief Saleh

Keringat di wajahnya masih bercucuran. Tubuhnya yang lelah sesekali disandarkan di kursi, sembari melayani kerabatnya yang datang memberi dukungan. Di ruang tamu berukuran kecil itu, senyum khasnya selalu mengiringi setiap perbincangan.

Hari itu, Senin 27 Juli 2015, Andi Idris Syukur baru saja mendeklarasikan diri sebagai kandidat bupati Barru, sekaligus memperkenalkan pasangannya Suardi Saleh. Terik matahari yang menyengat, tak menjadi penghalang menyampaikan orasi politiknya di panggung terbuka di depan rumah panggungnya, di Desa Pancana, Barru.

Sebelum bergerak ke kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk mendaftarkan diri di hari yang sama, Idris yang masih menjabat bupati di periode pertama menyempatkan waktu sejenak menerima beberapa tamunya. Satu diantaranya adalah penulis yang kala itu masih sangat asing di matanya.

Di awal pertemuan, sahabat yang kini menjadi atasan saya di kantor, memperkenalkan ke Idris jika selama pilkada akan ditempatkan di Barru untuk mendampingi. Lebih tepatnya saat itu,  saya selalu menempatkan diri tidak lebih dari “paggene-genne” atau pelengkap.

Maklum, setelah memutuskan ‘pensiun dini’ sebagai jurnalis, ini merupakan kali pertama ikut menjadi “paggene-genne” mendampingi kandidat bupati. Itu sebabnya, di awal perkenalan itu, saya lebih banyak menjadi pendengar, ketimbang ikut memberi masukan.

Untungnya, tanpa basa-basi dan banyak tanya, Bapak Idris Syukur merespons positif. Bahkan di awal perjumpaan itu pula, Pak Bupati langsung meminta saya ikut mendampinginya mendaftar di KPU, sekaligus memberikan id card khusus pendaftaran.

Keputusan penulis menjadi bagian dari tim incumbent itu, bukan tanpa alasan. Ada dorongan dari dalam, sekaligus panggilan nurani untuk ikut mendampingi Idris Syukur yang sebelum perkenalan, beliau sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Bareskrim Polri.

Sebagai eks jurnalis, ada pertanyaan yang berkecamuk. Muncul kegelisahan dan keprihatinan, kenapa seorang bupati yang sukses menjadikan daerahnya meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selama dua tahun berturut-turut, mendadak ditetapkan menjadi tersangka jelang pendaftarannya sebagai kandidat.

Ada yang aneh menurut saya. Tak lasim di penanganan kasus. Bagaimana mungkin, mobil bekas Pajero yang dituding pemberian untuk mempermulus penerbitan izin perusahaan, dijadikan dasar penyidik menetapkannya sebagai tersangka? Bukankah, mobil itu ada bukti kuitansi jual-belinya?

Keprihatinan semakin menjadi tak kalah kasus itu langsung ditangani Bareskrim Polri. Padahal jika mengacu pada standar penanganan, seyogyanya cukup Polres atau Polda yang memprosesnya. Ditambah lagi, cara penyidik melakukan penggeledahan, seperti menggrebek markas teroris. Menurunkan aparat bersenjata lengkap, plus mobil baracuda yang menjadi tontonan gratis masyarakat.

Melihat “keanehan” dan dramatisasi itu, saya merasa tertantang. Terlepas dari kelemahan penulis, saya merasa ada panggilan hati ikut menjadi bagian dari orang yang terdzolimi dan teraniaya. Mungkin karena alasan itu, sejak awal saya tulus berada dibarisan suami Andi Citta Mariogi ini.

Setelah pertemuan yang berkesan bagi penulis, hampir setiap saat saya selalu setia menemani Idris Syukur. Termasuk ketika berembus isu jika ayah dari Andi Cora Adita itu akan ditahan sebelum penetapan kandidat di KPU.

Seiring waktu berjalan, Idris yang punya ciri khas selalu mengenakan kopiah, memberi kepercayaan kepada penulis menjadi juru bicaranya.  Saya masih ingat betul kala beliau menyampaikan itu di atas kendaraan dinasnya. “Kita mi Pak Arif dih yang jadi juru bicaraku,” katanya dengan nada pelan saat itu.

Mendengar itu, jujur penulis merasa terharu, sekaligus merinding. Meski baru hitungan pekan saling mengenal, tapi beliau sudah mempercayai saya, dan memberi tanggung jawab besar. Tidak gampang bagi saya, seorang bupati yang maju untuk periode keduanya menunjuk orang yang baru ia kenal sebagai juru bicaranya.

Mungkin karena belum tepat saya menerima amanah itu, sehingga penulis sempat mengutarakan kalau belum layak menjadi juru bicara. Saya tahu diri bukan orang Barru. Saya sadar, pengalaman di politik masih minim. Saya bercermin, baru menjadi bagian di tim. Tapi semua itu tidak membuat Idris Syukur mengubah sikapnya. Beliau tetap mempercayai saya sebagai juru bicara, sekaligus yang bertindak menjalin kemitraan dengan media.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *