Kemerdekaan Mental

Ilustrasi. Int

Ilustrasi. Int

Oleh: Usman Jasad

Apakah Anda sudah merdeka? Sebagian besar orang menjawab, ‘Ya saya sudah merdeka karena Bangsa Indonesia sudah merdeka dari penjajahan’.

Itu adalah kemerdekaan secara fisik. Manusia bukan saja memiliki dimensi fisik, tetapi juga memiliki aspek mental.

Kemerdekaan mental bahkan lebih penting dari kemerdekaan fisik. Banyak orang secara fisik merdeka, tetapi jiwanya terbelenggu oleh orang lain.

Banyak orang membiarkan orang lain mengendalikan dirinya.

Kalau Anda senang saat dipuji oleh orang lain, marah saat dibantah, tersinggung saat dikritik atau sedih saat dicaci maki, itu berarti Anda mengizinkan orang lain mengendalikan diri Anda. Jika itu terjadi berarti Anda belum merdeka secara total.

Anda bahkan belum bisa menentukan perasaan sendiri karen masih dikendalikan oleh orang lain. Inilah yang dialami oleh banyak orang.

Mulai saat ini berjuanglah untuk memerdekakan jiwa dan perasaan Anda dari kendali orang lain.

Jadikanlah setiap hari sebagai ajang untuk bertempur menghadapi penilaian dan perlakuan orang lain.

Jangan biarkan benteng perasaan kita diterobos dan dirobohkan sehingga orang lain dengan mudahnya bisa mengendalikan perasaan kita.

Kita harus merdeka dari perlakuan orang lain. Hal ini bukan berarti kita tidak boleh berinteraksi. Silahkan bergaul dengan orang lain, tetapi gantungkanlah hidup Anda pada diri sendiri.

Kemerdekaan sejati adalah ketika Anda bisa menentukan nasib dan perasaan Anda sendiri. David O. Mackay mengatakan, “The greatest battles of life is fought daily in the silent chamber of soul”.

Peperangan paling dahsyat dalam kehidupan kita adalah pertarungan setiap hari dalam relung-relung sunyi jiwa kita.

Ujas

*Penulis adalah Ketua DPD Kesthuri Sulsel dan juga dosen UIN Alauddin Makassar.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *