Handuk, Kipas dan Sepotong Kayu

Ilustrasi | Int

Ilustrasi | Int

Oleh: Arum Spink

Suami-suami takut istri”. Ya, begitu sebuah judul sinetron di salah satu program tv swasta. Serial sinetron beberapa tahun lalu. Kini tak tayang lagi. Mungkin pembaca pernah menyaksikan acaranya atau jangan-jangan pembaca adalah penonton setianya.

Dari sinetron ini, istilah suami-suami takut istri populer. Jika ada teman yang takut pada istrinya, segera diminta mendaftar di organisasi ISTI (ikatan suami takut istri) begitu kerap candaan di warung kopi.

Sinetron itu mengangkat potret rumah tangga dalam sebuah lingkungan kecil di kota, di mana nyaris semua suami-suami takut kepada istri-istri mereka. Di setiap episodenya, selalu menampilkan dinamika khas rumah tangga dan dikemas dalam lakon-lakon kocak yang mengundang tawa bagi kita yang menontonnya.

Sekalipun secara persis saya tidak tahu latar belakang naskah dan motivasi di balik tayangan-tayangan bergenre humor dan jenaka ini, tapi saya menduga sang sutradara mengangkatnya karena memang banyak realita suami yang takluk dan tak berdaya di hadapan istrinya. Singkat kata, istrinyalah yang menjadi pemimpin dan penguasa di dalam rumah tangganya.

Menyaksikan sinetron ini, kadang perut yang terkocok karena lucunya bercampur miris menyaksikan suami-suami dianggap “pembantu” justru oleh istrinya sendiri. Lelah yang tak terkira setelah mencari nafkah seharian tak sebanding penghargaan istri tatkala mereka pulang.

Tapi syukurlah, kejadian yang ditemukan dalam tayangan tersebut hanyalah sebuah skenario sutradara dalam sebuah sinetron. Saya membayangkan jika itu benar terjadi lalu realitas itu kita benturkan dengan ajaran Islam serta contoh yang pernah diperlihatkan oleh Rasulullah…pastilah kening kita berkerut tanda menolak dan tak setuju.

Bayangan kita, laki-laki adalah pemimpin. Suami tetaplah kepala rumah tangga. Meski ruang kepada istri teramat luas dalam hal pembinaan di rumah tangga. Dari sekian banyak kisah tentang profil istri dalam rumah tangga, berikut salah satunya.

Diceritakan dalam sebuah peristiwa di zaman Nabi Muhammad SAW. Pada masanya, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Wahai para wanita, tirulah Muti’ah jika kalian ingin masuk surga. Allah telah menjamin wanita ini masuk surga!”

Sontak para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa sih keistimewaan wanita itu sehingga kami perlu menirunya?” Rasulullah SAW tidak langsung menjawab. Namun, Rasulullah justru menyuruh para sahabat untuk menyelidikinya agar mengetahui keistimewaan wanita bernama Muti’ah.

Sontak para sahabat pun bergegas mencari informasi tentang Muti’ah hingga ditemukan alamatnya. Secara diam-diam, para sahabat menyelidiki keistimewaan wanita yang bernama Muti’ah. Singkat kisah, wanita yang bernama Muti’ah itu selalu menyimpan tiga benda di rumahnya. Ketiga benda itu adalah selembar kain (sejenis handuk/ towel kecil), kipas, dan sepotong kayu.

Para sahabat terheran-heran, untuk apa ketiga benda itu? Ketiga benda yang terasa tidak bermakna. Namun, begitu berharganya benda itu bagi Muti’ah. Maka, mereka pun bertanya kepada Muti’ah, “Wahai Saudariku, untuk apa ketiga benda itu sehingga Rasulullah menyuruh kami untuk menirumu?” Dan dengan senang hati pula, Muti’ah bercerita tentang ketiga benda itu.

“Ketahuilah wahai saudara dan saudariku, aku selalu menggunakan ketiga benda itu untuk menyatakan kesetiaanku kepada suamiku. Aku menggunakan ketiga benda itu untuk menyatakan kecintaanku nan tulus kepada suamiku. Aku menggunakan kain itu untuk mengelap keringat suamiku setelah seharian mencarikan nafkah bagiku dan bagi anak-anakku. Aku menggunakan kipas itu untuk memberikan udara segar agar badan suamiku kembali bugar. Dan aku menggunakan sepotong kayu itu agar suamiku berkenan memukulku jika pengabdianku kepadanya kurang berkenan.”

Wallahu A’lam

Penulis merupakan anggota DPRD Provinsi Sulsel

Penulis merupakan anggota DPRD Provinsi Sulsel

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *