Professor Ahli Falak itu Telah Pergi

Jenazah Prof Ali Parman saat akan diantar ke liang lahat. Dok

Jenazah Prof Ali Parman saat akan diantar ke liang lahat. Dok

Berita duka itu saya terima di pagi hari. Menjadi kabar pertama yang dicerna mata tatkala memulai berselancar di dunia maya. Sejumlah status, broadcast dan berita online mewarnai dinding. Professor Dr. H. Ali Parman, Pakar Ilmu Falak dan ahli hitung itu telah meninggal dunia.

Bayangan saya menerawang. Mengingat almarhum, profilenya, gaya bicaranya dan sejumlah kenangan. Meski tak sebanyak yang lain, setidaknya saya cukup dekat tatkala masih berstatus mahasiswa di Fakultas Syariah IAIN Alauddin kala itu.

Prof Ali rahimahumullah_semoga Allah merahmatinya, menjadi dosen Ilmu Falak di beberapa semester yang saya ikuti. Mendampingi kami pada sampai praktikum falak dan bagaimana melihat hilal dan menghitung awal bulan hijriyah.

Dari almarhumlah saya tahu bagaimana menghitung waktu masuk shalat di waktu dulu, sekarang dan akan datang.

Jika menjelang puasa, nama Prof Ali kerap terpampang di pamflet imsakiyah ramadhan. Di situ jelas tertulis “berdasarkan hasil perhitungan Tim Hisab dan Rukyat IAIN Alauddin Makassar, tertanda Prof. Dr. H. Ali Parman”.

Dengan bangga saya menyampaikan ke Ibuku bahwa nama itu adalah dosenku. “Saya diajar oleh bapak itu” Ujarku.

Saya meninggalkan kampus di saat beliau masih menjabat Pembantu Dekan bidang Kemahasiswaan. Entah alasan apa beliau dipilih di posisi itu. Ada semacam konsensus di fakultas bahwa yang menduduki jabatan tersebut haruslah cakap berkomunikasi dan dekat dengan mahasiswa.

Bisa jadi karena alasan itu pula Prof. Ali ditempatkan. Memang, tak bisa dipungkiri, dengan gaya khasnya yang sederhana dan cenderung humoris, banyak mahasiswa merasa dekat dan nyaman berinteraksi dengan almarhum.

Dari sejumlah media saya tahu bahwa Prof. Ali pernah menjadi dekan Fakultas Syariah.

Yang menarik bahwa proses pemilihannya dilakukan secara musyawarah mufakat. 30 anggota senat fakultas bulat secara aklamasi memilih almarhum tanpa proses pemilihan. Inilah sejarah baru yang dicetak almarhum di UIN Alauddin Makassar, pemilihan pimpinan tanpa pemilihan suara.

Terakhir kali bertemu beliau tatkala menghadiri undangan DPRD Prov. Sulawesi Selatan dalam acara rapat dengar pendapat pada sebuah pembahasan pansus pada tahun 2015. Saat itu, beliau mewakili UIN Alauddin memaparkan sejumlah pandangan akdemisi terkait sebuah pembahasan yang tema persisnya saya lupa.

Saya sebenarnya tidak terlalu yakin jika almarhum masih mengenal saya.

Maklum, sejak diwisuda terhitung hanya beberapa kali saja bersilaturahmi dengan sejumlah civitas kampus. Saya tidak menyangka bahwa almarhum masih mengingat saya dari sekian banyak mahasiswa yang pernah diajarnya.

Satu hal yang tidak berubah, sosoknya yang sederhana, cara berpakaiannya, gaya bicaranya yang begitu sopan termasuk sentilan-sentilan humornya masih melekat bagus di sosok mantan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) UIN Alauddin ini.

Inilah yang selalu kukenang, inilah yang selalu kuingat.

Mantan aktivis HMI dan kader Muhammadiyah ini telah menyelesaikan tugasnya sebagai khalifah. Berjuang melawan sakitnya adalah pemadangan detik-detik akhir hidupnya. Keluarga dan kolega yakin begitu mencintai sosok ini, tapi Allah jauh lebih mencintainya.

Prof, selamat jalan. Tak sempat saya mengantar engkau ke peristirahatanmu yang terakhir apalagi bertabur bunga. Meski tak di pusaramu, kupanjatkan doa semoga kuburanmu diterangi, menjadi taman syurga dan ilmu yang kau ajarkan ke kami sebagai jariyahmu di sisi Allah, Amin Allahumma Amin…..

Penulis : Arum Spink, Alumni Fak. Syariah Jurusan Akhwalu Syakhsiyah kelas AS 3

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *