HMI, Rumah Kita!

HMI | Int

HMI | Int

Oleh: M. Arief Rosyid Hasan

2004, tepat satu dekade saya merasakan keluarga yang ramah, yang tak jauh berbeda dari apa yang saya rasakan di rumah sendiri. Berisi orang-orang (senior) hebat yang berani memikirkan orang banyak ketimbang dirinya sendiri. Mereka dengan gigih memperjuangkan apa yang pantas untuk diperjuangkan demi kemaslahatan orang-orang sekelilingnya.

Seruan Nabi Muhammad SAW yakni “manusia terbaik adalah mereka yang paling bermanfaat buat lingkungannya” dipraktekkan dengan sangat baik.Sehingga tidak mengherankan banyak yang rela keluar dari “zona nyaman”, kemudian memilih jalan pengabdian yang mengharuskan mereka berkorban secara materi maupun nonmateri untuk kepentingan orang banyak.

Adalah Himpunan Mahasiswa Islam yang sejak awal memperkenalkan wajah kampus yang ramah dengan beragam pengetahuan baru di dalamnya. Di Rumah ini banyak membuktikan tesis “berteman lebih dari saudara”, Islam yang penuh dengan nilai kebenaran dan bisa dipertanggungjawabkan (tidak sekedar agama turunan yang karena orangtua kita Islam sehingga serta merta kita Islam, tanpa pernah tahu mempertanggungjawabkannya). Bukankah segala sesuatu harus dipertanggungjawabkan kepada-Nya?

Saya ingat betul masa-masa belajar di HMI Komisariat Kedokteran Gigi Unhas adalah masa-masa yang indah, yang tak akan pernah bisa dibayar berapapun harganya. Sampai ketika saya telah sampai di puncak proses sebagai Ketua Umum Pengurus Besar HMI. Capaian ini tentunya tak akan pernah ada tanpa proses sebelumnya. Seperti manusia yang tak mungkin bisa berlari tanpa pernah merangkak, berdiri, dan berjalan.

Seperti sharing dengan senior-senior yang telah terpencar di sudut pilihannya masing-masing. Mereka yang masuk di jalur akademik sebagai dosen, mereka yang mengabdi sebagai PNS/PTT, mereka yang menjadi birokrat, dan beragam pilihan lain dengan segala cerita suksesnya masing-masing bersepakat bahwa kesuksesan itu takakan pernah ada tanpa pernah terdidik di HMI Komisariat Kedokteran Gigi Unhas.

Bagi kami semua yang pernah belajar di Rumah ini, sekecil apapun kontribusi kita di tempat masing-masing akan tumbuh subur dan akhirnya menjulang demi mengurai persoalan yang ada di tanah air yang sangat kita cintai ini. Bekal kecintaan ini lahir dari alasan bagaimana kita mengaktualisasikan Islam yang hadir sebagai rahmat buat seluruh alam, khususnya Indonesia.

Tujuan besar tentu takkan bisa diwujudkan tanpa pernah mengawali langkah. Sekecil atau sependek apapun langkahnya akan sangat menentukan bagaimana langkah-langkah kita berikutnya. Tak ada yang kebetulan, setiap akibat meniscayakan adanya sebab sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *