Selamat Jalan dr. Husain…

dr Husain | Dok

dr Husain | Dok

Oleh: Arum Spink

“Ustads, kalau ada acara keagamaan, baik di pemerintahan atau yang lain, pasti ada kursi khusus buat ustads, dai, penceramah atau ulamanya. inilah kenikmatan menjadi petugas Agama. Di dunia kita sudah dapat tempat, insya Allah di akhirat lebih dimuliakan lagi,” demikian dr. Husain rahimahumullah berkata suatu ketika kepada saya.

Kalimat itu begitu memotivasi. Terkhusus saya. Almarhum menegaskan diri sebagai sosok pencari kemuliaan. Bukan saja kemuliaan akhirat, dunia pun tak dilupakannya. Falsafah menamam rumput mustahil tumbuh padi tapi ketika menanam padi akan tumbuh tumbuh rumput, saya yakini sebagai frame berfikirnya. Setidaknya, itulah yang saya tangkap dalam rentan waktu berkawan dengan almarhum.

Almarhum saya sebut sebagai da’i yang berprofesi dokter. Bukan dokter yang berprofesi da’i. Peran utamanya sebagai penganjur perintah Tuhan, penyampai nilai keberanaran. Sementara pengetahuan medisnya hanya dimanfaatkan membumikan dakwahnya. Dari alasan inilah saya tidak terlalu heran tatkala mendengar kalau almarhum “digugat” seprofesinya sesama dokter karena memasang tarif rendah untuk sekali tindakan sementara yang lain bertarif “mencekik”. Dunia ini adalah alat menuju akhirat, bukan tujuan akhir dari perjalanan hidup. Itulah pesan yang saya tangkap, yang di tempat lain susah menemukannya.

Mobilnya yang dicuri tak dirisaukannya sangat meski tetap berupaya mencarinya. Keyakinannya kokoh akan ujian Tuhan. “Jika ini membawa kebaikan, saya pasrahkan Ya Allah” begitu almarhum berucap. Sampai akhirnya mendapat kabar bahwa mobil tersebut ada di Surabaya dan kembali padanya, dihadapinya dengan biasa saja.

Keseimbangan hidupnya selalu terjaga. Dunia dan segala kehidupannya ditinggalkan tanpa beban sedikitpun. Ia memilih berhari hari sampai berbulan, dari rumah ke rumah sampai antar negara didatanginya untuk belajar dan berdakwah. Mengajak sholat lima waktu dan tetap di jalan Allah dilakoninya dengan penuh kesabaran. Meski hinaan itu kerap menghampiri, tak dipedulikannya berlebihan. “Asalkan kita tak terhina di hadapan Allah” begitulah almarhum berprinsip

Suatu ketika beliau terharu. Wajahnya memerah. Kedua matanya berkaca kaca. Lalu saya liat ia menghapus air matanya. Ia begitu emosional. Tak kuasa menahan derai air mata tatkala mendengarkan sejarah Rasulullah diulas dan menggambarkan penderitaan Nabi. Saya menangkap kecintaan yang mendalam. Itulah tanda iman yang terekam dari almarhum.

Setelah saya turun dari mimbar, diskusinya pun semakin panjang. Almarhumpun memceritakan perjalanan Rasulullah berdakwah ke Thaif. Berapa orang yang ikut ? tak satupun dari penduduk Thaif yang bersayahadat. Bukannya pengikut, Malah Rasulullah mendapatkan perlakuan buruk yang terkira. Perempuan-perempuan dan anak-anak dari penduduk Thaif berbaris menyaksikan Nabi berjalan pulang. Sebagian mereka melemparinya batu. Bahkan ada yang meludahi wajah kekasih Allah itu. Darah dari pelipis bercucuran. Betapa sabarnya Rasulullah. Sedikit pun tak dibalasnya perlakuan mereka. Tawaran bantuan malaikat pun diabaikan. Almarhum masih melanjutkan ceritanya. Saya memilih menunduk. Saya tak kuasa. Bukan saja karena keharuan cerita. Lagi-lagi karena almarhum sdh sejak tadi menitikka air mata saat menceritakannya.

“Orang ini baik. Senyum sudah menjadi ciri khasnya. Kata-katanya santun. Beliau peramah dan suka menolong” begitulah sejumlah testimoni netizen mendengar kabar kepergiannya subuh itu.

“Rahimakallah akhi ..
Dokter yang ikhlas, tulus dalam berkhidmah insya Allah, hari ini ‘Jum’at’ di Waktu yang mulia kembali pada Allah …
Innaa lillaah wa innaa ilaihi Raji’un

Alamat husnul khatimah insya Allah :
1. Dalam menunaikan tugas/kecelakaan
2. Di Waktu Subuh
3. Di hari Jum’at
4. Orang-orang shaleh merasa kehilangan” Tulis Ustads Harman Tajang di akun Facebooknya.

Ustads, masih banyak menantikanmu. Kebaikan dan pertolonganmu masih kami butuhkan. Terlalu cepat engkau pergi.

Allah berkendak lain. Allah lebih mencintaimu darapada kami. Kami doakan Engkau di keharibaan Tuhan di surga. Menikmati jariyah yang amal yang telah kau lakukan.

PipinkPenulis merupakan anggota DPRD Provinsi Sulsel

One Comment

Basyir alias Alfian Efraim Jakub Mintje

Innalillahi wa inna ilahi roji’un,.. Semoga Allah menerima segala Amal kebaikan beliau,… Kami sayang beliau tapi ternyata Allah lebih sayang kepada Belair,. Selamat Jalan Sahabatku yg terbaik, yg memotivasi diri ini utk mengenal Islam lebih baik lagi,.. Dri sang #muallaf

Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *