Literasi di Nol Kilometer

Kilometer 0 Indonesia | Tripadvisor.es

Kilometer 0 Indonesia | Tripadvisor.es

Oleh: M Quraisy Mathar

Angka 0 (nol) itu sebetulnya titik tengah, bukan titik awal, seperti yang ada dalam perspektif terbatas kita saat ini. Nol bukan simbol awal, melainkan simbol rehat atau jeda setelah setelah sesuatu.

Kita semua harus berterima kasih kepada Musa al-Khawarizmi yang telah berpikir dalam rumus-rumus aljabar-nya sehingga kemudian melahirkan temuan terbesarnya, yakni angka nol itu sendiri.

Tentu tak ada bilangan puluhan, ratusan, ribuan, jutaan, milyaran, dan seterusnya, tanpa kehadiran pikiran Khawarizmi. Bayangkanlah jika Khawarizmi dulu tidak menemukan bilangan nol.

Segala sesuatu hitungan dianggap berawal dari angka 1 dan berakhir pada angka 7 atau 9. Setelah ada angka nol, kita baru tersadar bahwa ada bilangan minus sebelum nol tersebut.

Saya duduk di tepi Pulau Weh. Dari atas tebing buatan berpenyangga kayu, menghabiskan sepiring mie dan sebatok air kelapa muda. Hamparan ombak menerjang pesisir membuat semua yang datang membayangkan tsunami.

Lalu seorang kawan mengajak mencetak sertifikat telah tiba di titik 0 kilometer Indonesia, yang bagi sebagian orang dianggap sebagai titik awal untuk menghitung panjang negara Indonesia.

Kuteringat dengan CPI (Central Point Indonesia) yang berada tepat di tengah lautan di bawah pulau Sulawesi. Titik yang menjadi sentral pembatas antara kawasan Barat di Sabang dan Timurnya di Merauke.

Seharusnya di CPI juga ada sertifikat sentral Indonesia, dan di Merauke harus ada sertifikat entah berapa kilometer panjang Indonesia yang dimulai dari Kota Sabang.

Indonesia memang negeri yang luas. Panjang jarak dari Sabang sampai Merauke bahkan hampir sama dengan panjang seluruh benua Eropa. Tak heran jika negeri ini kaya tradisi, kaya budaya, kaya panorama, sekaligus kaya akan segala bentuk persoalan berkehidupan.

Di nol kilometer saya merenung tentang dibutuhkannya seorang superman untuk menjadi presiden di negeri ini. Tak cukup seorang Soekarno, Soeharto, Habibie, GusDur, Megawati, SBY, dan Jokowi untuk single fighter menyelesaikan persoalan bernegeri, sebab mereka memang bukan superman, mereka hanya presiden.

Dibutuhkan rasa bersama untuk mengurus negeri ini. Tidak harus dimulai dari titik nol kilometer di Sabang, namun sejatinya seluruh kita bisa mulai berbuat untuk negeri, dimulai dari nol kilometer hati kita masing-masing, untuk Sabang sampai Merauke.

Quraisy Mathar

Penulis adalah Kepala Pusat Perpustakaan UIN Alauddin Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *