Doa Dua Malaikat

Ilustrasi | Int

Ilustrasi | Int

Oleh: Arum Spink

Selain dikenal sebagai syahrun shiyam, Ramadhan juga dikenal sebagai syahrun Al Muwasat__bulan berbagi. Kepekaan terhadap orang yang lapar, kepedulian kepada orang yang tak berpunya sampai perintah mengeluarkan zakat adalah hikmah dan faidah diturunkannya perintah berpuasa.

Jika menilik sejumlah aktivitas sosial di setiap ramadhan, perinsip berbagi sebagai manifestasi makna syahrul Al Muwasat ini sesungguhnya telah massif dilakukan. Di berbagai media misalnya, berita-berita bertajuk acara buka puasa, gerebek sahur, bakti sosial sudah menjadi pemandangan yang begitu akrab selama bulan ramadhan.

Pelaksananya pun beragam. Mulai individu, komunitas, kelompok hingga kalangan perkantoran.

Di kampung saya di Bulukumba, kegiatan semacam ini pun marak dilaksanakan. Saya saja misalnya, Sejak kemarin telah menerima undangan berbuka puasa yang dirangkai dengan sejumlah kegiatan yang berbau bakti social. Pelaksananya adalah instansi pemerintah dan swasta.

Sejujurnya ini menggembirakan. Bulan yang penuh berkah ini telah diisi dengan hal-hal sesuai yang dianjurkan__berbagi. Apakah ini tanda kualitas ketaatan kita sudah baik ?

Kepedulian dan komitmen untuk berbagi merupakan hasil pemahaman kita secara paripurna akan perintah berpuasa. Di dalamnya ada cabang yang tegas menyatakan bahwa kepedulian ini tidak berawal dan berakhir hanya di bulan ramadhan tapi sudah menjadi identitas keseharian alumni puasa ramadhan__muttaqin.

Bukankan bulan ramadhan ini adalah bulan latihan ? bukankah setelahnya adalah bulan ujian sukses tidaknya kita berlatih ? Yang terbaik di antara kita adalah sejumlah kepedulian, empati dan kebajikan yang dilakukan diteruskan hingga bulan-bulan setelahnya.

Dalam potongan khutbah Rasulullah menjelang ramadhan, sangat tegas ganjaran orang-orang yang berpuasa lalu senang berbagi. “Wahai manusia, barangsiapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu.

(Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.” Rasulullah meneruskan khotbahnya, “Jagalah dirimu dari api neraka walau pun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walau pun hanya dengan seteguk air.”

Selain hadits di atas, banyak hadits yang menunjukkan betapa kepedulian dan semangat berbagi mendapat kemuliaan di Mata Allah. Berikut ini misalnya, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah. “Barang siapa yang melapangkan atau melepaskan seorang muslim satu kesusahan dari sebagian kesusahan dunia, niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya dari sebagian kesusahannya di hari kiamat.

“Barang siapa yang memberi kelonggaran dari orang yang susah, niscaya Allah akan memberi kelonggaran baginya di dunia dan akhirat. Barang siapa yang menutup aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutup aib dia di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” Sabda Rasul di hadits lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *