Didadak Ceramah

Ilustrasi | Int

Ilustrasi | Int

Oleh: Arum Spink

Baru saja protokol mengatakan bahwa malam ini tak ada ceramah, sejumlah jamaah spontan bereaksi dan memberi isyarat. Jamaah ini mengarahkan protocol untuk melihat ke barisan tempat saya duduk. Jamaah ingin menunjukkan keberadaan saya malam itu.

Saya memang berada di shaf ketiga. Saya terlambat masuk ke masjid. Saat protokol telah mendapatiku dalam pandangannya, sejurusan saya didadaknya. Rasanya seperti ditodong.

Tanpa panjang penjelasan, sang protokol mendaulat untuk langsung naik mimbar lalu mengisi jadual ceramah di malam kedua ini. Ini di Masjid Nurul Falah. Masjid dekat rumah orang tua saya di kampong Ela-ela Bulukumba. Tempat sejak saya lahir dan bertumbuh.

Saya memulai dengan menjelaskan arti dan makna Ramadhan. Dari asal katanya, Ramadhan berasal dari kata arramdu yang berarti membakar. Dari sini dipahami bahwa orang yang berpuasa itu dibakar dosa-dosanya atau diampuni kesalahannya oleh Allah. Baik hadits yang berbunyi man shoma ramadhana atau man qama ramadhana ada kalimat di akhir hadits, gufira lahu min dsambih : diampuni dosa-dosanya yang telah lampau. Meski ampunan ini bersyarat__jika puasanya dilakukan dengan iman dan kesungguhan penuh.

“Hari puasa pertama telah kita lewati. Tubuh kita sejak hari ini akan beradaptasi dalam hal makan dan minum. Lambung kita hanya akan menerima makanan di waktu sahur dan buka puasa saja. Mungkin ada efek semisal sakit maag akibat perubahan pola makan ini. Tapi biasanya tak terlalu lama. Tubuh kita telah dirancang hebat oleh Allah untuk menyesuaikan segera dan dalam tempo yang sangat singkat.” Demikian saya menerangkan.

Pun jikalau perubahan ini membuat kita lapar, toh masih berbatas. Hanya antara fajar dan magrib saja. Normalnya 12 jam meski ada daerah yang lebih. Jika puasa disebut menyiksa karena tidak mengkonsumsi makanan, tidak sepenuhnya benar. Banyak di antara kita punya kebiasaan makan dua kali saja. Jadi waktunya saja yang berpidah jadual. Tetap saja makan.

Karena sudah menjadi kebiasaan, akhirnya jadi akrab. Efek lapar karena tak adanya asupan yang masuk di siang hari, akhirnya direspon biasa-biasa saja. Bahkan, tak makan sahur sekalipun tetap tak mengganggu aktivitas menahan kita di jam-jam ramadhan. Meski ini tidak dianjurkan . “Pembeda antara puasa kita dengan puasanya Ahlul Kitab adalah makan sahur.” Demikian Nabi mengingatkan.

Di hadits yang lain, “Sesungguhnya makan sahur adalah berkah yang Allah berikan pada kalian maka janganlah kalian tinggalkan.” Dunia medis pun turut membenarkan anjuran ini.

Saya mengetengahkan ini sebagai refleksi. Saya sedikit gelisah sejak buka puasa. Besok pun demikian. Subuh kita makan sahur, magrib kita makan kembali. Begitu seterusnya. Hanya inikah ? lalu dimana pola kerja mesin ramadhan yang akan membuat kita bertaqwa hanya dalam waktu 30 hari ? lalu kenapa Nabi mewarning kita dengan kalimat;”Tak ada yang dia dapatkan kecuali lapar dan haus saja?”

Saya teruskan. Saya tegaskan bahwa kesanggupan kita menangkap dan mewujudkan pesan moral puasa adalah esensi perintah berpuasa ini. Nilai imaniyan dan insaniyah terefleksi dalam perilaku yang menjadi pedoman di dan setelah ramadhan berlalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *