Otak dan Soalanku

Ilustrasi | Int

Ilustrasi | Int

Oleh: Arum Spink

Berbeda dengan puasa di hari sebelumnya, puasa di hari ke tiga ini cukup berat buat saya. Penyebabnya karena tak sempat bangun untuk makan sahur. Bisa jadi karena kelelahan setelah menempuh perjalanan dari Bulukumba. Saya memang tiba di Makassar sekitar pukul dua dini hari. Langsung tertidur. Dan, bangun di saat azan subuh sudah berkumandang. “Mestinya langsung makan sahur setiba di Makassar” Begitu kawan menyarankan.

Karena tak ada asupan yang masuk, maka saya harus pandai-pandai mengatur gerak agar energi tak terlalu terkuras dan bisa semakin membuat tubuh semakin lemah. Saya putuskan untuk tidak masuk ke kantor. Saya memilih untuk berdiam di rumah dengan aktifitas yang ringan-ringan saja. Segala urusan yang teragendakan di kantor, saya selesaikan dengan menghubungi staf via telepon. Agenda rapat kerja di Pansus Transparansi, Partisipasi dan Akuntabilitas menuntut dipersiapkan.

Rencana, hari ini Kamis 9 Juni 2016, rapat kerja perdana rencana akan digelar bersama stakeholder terkait.

Dari sekian banyak pilihan, saya memilih membaca. Sesekali mengajak anak-anak bermain jika kantuk menyerang. Tak lupa membuka sejumlah percakapan di group di WA dan memberi respon-respon ringan.

Agus Mustafa, seorang Pakar Nuklir dan penulis produktif dalam Bukunya Untuk Apa Berpuasa menjadi bacaan siang kemarin. Saya menemukan kajian menarik terhadap bagaimana puasa menjaga keseimbangan fisik dan psikis. Diulasnya pernyataan Allah dalam Alquran, “Puasa lebih baik, jika engkau mengetahuinya.” Sejumlah asumsi ilmiah dikemukakan. Logis dan masuk akal. Sama halnya tatkala Isra dan Mi’raj dirasionalisasinya dalam buku Terpesona di Sidratul Muntaha.

Tapi saya tak mengulasnya lebih jauh di catatan ini. Saya malah akan menuangkan tema tentang otak yang luar biasa. Saya memilih membahas ini karena tiba-tiba tertegun tatkala membaca dua paragraf tentang bagaimana kerja otak yang begitu dahsyat. “Subhanallah, Sungguh ciptaan Tuhan begitu sempurna” Begitu ucap saya dalam hati.

Kedua paragraf itu saya hubungkan dengan tulisan Taruna Ikrar, Adjunct Professor, University of California, USA dan Direktur Brain Circulation Institute of Indonesia yang membedah bagaimana puasa memperbaharui struktur otak.

Otak disebutkan sebagai sistem organik di dalam tubuh manusia beroperasi bagaikan sebuah orkestra. Organ satu dan lainnya beroperasi saling bekerjasama dalam sebuah harmoni yang luar biasa sangat mengagumkan, dengan ‘dirigen’nya adalah otak.

“Otak adalah sistem kendali seluruh aktifitas yang dilakukan oleh seorang manusia. Seluruh gerakan motorik, proses berfikir, ingatan, perasaan, respon terhadap dunia luar, sampai pada aktivitas di bawah sadar kita dikendalikan oleh otak. Semua itu dikoordinasikan dengan sangat canggih melalui mekanisme syaraf, hormonal, otot, organ dan berbagai fungsi jaringan” Papar Agus.

Agus menegaskan bahwa seluruh aktifitas manusia akan kacau balau jika kerja otak tak maksimal. Menyetir misalnya, pasti akan menabrak sama sini jika ribuan bahkan jutaan proses dalam tubuh kita tidak berjalan harmonis dan terkendali. “Itu baru menjalankan dan menghentikan mobil. Bagaimana lagi jika harus memacu kendaraan di jalan tol dengan kecepatan tinggi ? Selama proses menyetir mobil itu, seluruh organ dan jaringan tubuh bakal terlibat untuk mendukung keputusan-keputusan otak dari detik ke detik, dari menit ke menit berikutnya. Dan hebatnya, proses yang sangat panjang itu, hanya terjadi dalam orde detik!” Tulis Penulis kelahiran Malang ini.

Lalu bagaimana dengan puasa ? Apakah ibadah ini memiliki efek ke otak manusia ? Lalu seperti apa efek puasa ke otak itu merubah perilaku manusia untuk lebih baik setelah ia berpuasa ?

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *