Puasa Bicara

Ilustrasi | Int

Ilustrasi | Int

Oleh: Arum Spink

Catatan ini sedikit berbeda. Di samping mengetengahkan pembahasan sederhana terkait sebuah tema, saya juga mengangkat profile seorang tokoh. Bukan saja karena temanya dibahas tokoh kita ini, tapi saya berfikir bahwa ia sosok menginspiring.

Tokoh ini bukan saja politisi dengan seabrek jabatan yang pernah disandangnya, tapi ia sukses mengkombinasikan dua hal. Terlepas dengan subjektifitas dan kelemahanku menilai, saya berani menyebut tokoh ini umara sekaligus ulama. Tak banyak sepertinya hari ini.

Seperti yang saya kutip di situs Biogarfiku.com, berikut profil singkatnya. “Terlahir dengan nama lengkap Mohammad Mahfud dilahirkan pada 13 Mei 1957 di Omben, Sampang Madura, Mahfud MD tercatat pernah menjabat sebagai Ketua MK (Mahkamah Konstitusi) Indonesia, Mahfud MD terlahir dari pasangan Mahmodin dan Suti Khadidjah.

Mahmodin, pria asal Desa Plakpak, Kecamatan Pangantenan ini adalah pegawai rendahan di kantor Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang.
Secara umum, pendidikan atau sekolah Mahfud MD cenderung zig-zag. Maksudnya, rangkaian pendidikannya merupakan kombinasi dari pendidikan agama dan pendidikan umum.

Mahfud mengenyam pendidikan dasar dengan belajar agama Islam dari surau dan madrasah diniyyah di desa Waru, utara Pamekasan. Masuk usia tujuh tahun, Mahfud disibukkan dengan belajra setiap harinya. Pagi hari menjalani pendidikan Sekolah Dasar, belajar di madrasah ibtidaiyah pada sorenya, dan menghabiskan waktu malam hingga pagi di surau. Setamat dari SD, Mahfud dikirim belajar ke Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Negeri di Pamekasan.

Pada masa itu, ada kebanggaan tersendiri bagi orang Madura kalau anaknya bisa menjadi guru ngaji, ustadz, kyai atau guru agama. Lulus dari PGA setelah 4 tahun belajar, Mahfud terpilih mengikuti Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN), sebuah sekolah kejuruan unggulan milik Departemen Agama yang terletak di Yogyakarta. Sekolah ini merekrut luluan terbaik dari PGA dan MTs seluruh Indonesia.”

Jika melihat dari latar belakang pendidikannya, wajarlah kiranya jika ketua Majelis Nasional Koprs Alumni HMI (KAHMI) ini tak canggung apalgi gugup ketika menyampaikan pesan-pesan agama. Ia sudah terbiasa dan akrab dengan mimbar-mimbar khutbah tersebut.

Subuh itu misalnya, Ustads Mahfud MD dalam sebuah tayangan sebuah TV swasta dalam program Ramadhan tampil dengan retorikanya yang khas lalu dengan tuntas membahas hikmah. Rasanya tak kalah dengan ustads-ustads yang “berseliweran” di studio-studio stasiun TV. Bahkan, dibanding da’i-da’i lain, saya lebih kerasan mendengar hingga akhir acara.
Mengangkat cerita tentang Nabi Zakaria, Ustads Mahfud Md memulai tauziyahnya dengan mengetengahkan saat Allah memberi tahunya bahwa ia akan memiliki anak yang bernama Yahya.

Kabar membuatnya berbahagia mengingat di usianya yang tua, ia belum dikarunia seorang putra. Zakaria as. sering berdoa, “Ia berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku” QS Maryam {19}:4.Satu saat, Tuhan menjawab,”Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia” QS Maryam {19}:7.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *