Jujur; Pribadi Ramadhan

Ilustrasi | Int

Ilustrasi | Int

Ini peringatan. Menghindari kesia-sian. Kebajikan yang telah dilakukan berakhir musnah. Di saat yang bersamaan kita juga melakukan kejahatan. Shalat yang dilakukan mestinya mencipta tameng. Kekejian dan kemungkaran akhirnya tak berdaya karena shalat yang ditegakkan sempurna. Tameng membatasinya, selanjutnya melindunginya. Begitu pula ibadah lain seharusnya berimplikasi.

”Pernah anda sendiri di kamar ?” Tanya Prof. Ahmad. “lalu di kamar itu ada segelas air mineral. lalu kenapa anda tidak meminumnya ? Bukankah tak ada orang yang tahu dan melihat anda ?” Tanyanya lagi. “Itulah kejujuran. Itulah tanda makna taqwa yang dilahirkan puasa ini” Ujar sang Professor.

Karena kejujuranlah seseorang dimuliakan. Sebaliknya tanpanya pasti akan dihinakan. Kesusksesan Rasulullah dalam berdagang bukan semata mata karena piawai dalam berdagang. Oleh Maisarah menyebut kehebatan itu karena nilai kejujuran dipraktekkan dalam berdagang. Di sinilahtrust itu muncul. Pedagang tanpa trust alamat kehancuran. Bagaimana di mata Allah ? Subhnallah. Di akhirat nanti, pedagang yang jujur disejajarkan posisinya dengan para nabi dan orang-orang yang berjihad di jalan Allah.

“ada pejabat hebat” Ujar Sang Professor. Tatkala bermaksud menunaikan ibadah haji,  didatangi oleh sahabat setianya sejak kecil. Sahabatnya ini adalah seorang pengusaha sukses. Sejumlah uang dan fasilitas diserahkannya kepada sang pejabat. Yang menarik karena tak ada syarat. Murni karena pertemanan yang sejak kecil dibangunnya. Sang pejabat tak bergeming. Semua pemberian itu dikembalikan. “ Mohon ini semua tidak menganggu hubungan pertemanan kita” Ujar sang Pejabat. “Anda tahu siapa  pejabat jujur itu ?” Tanya Prof. Ahmad kepada jamaah.  “dia adalah Professor Baharuddin Lopa”

Rasanya susah menemukan sosok seperti itu lagi. Bisa jadi bak mencari jarum di tumpukan jerami. Tapi jangan pesimis. Untuk itulah Ramadhan datang. Agar melatih kita menjadi pribadi-pribadi yang jujur. Agar setelahnya menjadi mental. Tak akan melakukan kejahatan karena merasa terawasi oleh Allah. Menolak kebatilan karena memang dia sadar bahwa itu larangan. Inilah penghuni syurga.

Berikut Firman Allah dan hadits Rasulullah tentang kejujuran itu.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah SWT, dan hendaklah bersama orang-orang yang benar.” Attaubah ayat 119

Dari ibn Mas’ud ra, ia berkata : Bersabda rasulullah saw; Wajib bagi memegang teguh perkataan benar, karena perkataan benar membawa kebaikan, dan kebaikan itu mengajak ke Sorga. Seseorang yang senantiasa berkata benar, sehingga dituliskan disisi Allah sebagai orang yang berbuat benar (jujur). Dan jauhilah berkata dusta, karena kata dusta itu membawa kejahatan, dan sessungguhnya kejahatan itu mengajak ke neraka. Seorang pria yang senantiasa berkata dusta, maka dituliskan disisi Allah sebagai pendusta besar.

dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat Dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri? Az Zumar ayat 60.

Wallahu A’lam

Penulis merupakan anggota DPRD Sulsel

Penulis merupakan anggota DPRD Sulsel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *