Puasa dan Penghidmatan

Ilustrasi | Int

Ilustrasi | Int

Oleh: Arum Spink

Pada bulan Ramadhan, Nabi yang mulia memergoki seorang perempuan yang memaki budaknya. Ia memanggil perempuan itu dan menyuruhnya berbuka. Perempuan itu berkata: Inni sha’imah, Aku berpuasa. “Bagaimana mungkin kamu berpuasa, tetapi kamu memaki-maki budakmu.” Nabi mengingatkan perempuan itu bahwa bulan Ramadhan adalah bulan penghidmatan, bukan makian. Memaki hamba Allah akan menghapuskan semaua pahala puasanya. Supaya puasa itu berfaedah , tinggalkan segala macam kezaliman, terutama pada orang kecil.

Dilaporkan oleh para sahabat tenta ng seseorang yang selalu berpuasa di siang hari dan bangun malam untuk shalat, tetapi sering menyakiti tetangganya denagan lidahnya. Ia menjawab singkat, Huwa Pi Nnar, dia di neraka.

Alkisah, Nabi Musa as bermunajah kepada Tuhan. Sang Maha Suci bertanya, ´Hai Musa, banyak sekali ibadahmu, yang mana untuk-Ku ?” Musa terkejut mengapa Dia bertanya tentang ibadahnya, sebab semua ibadah untuk Tuhan. Tuhan berkata:”Semuanya untuk kamu, mana untuk-Ku ? Musa bingung dan berkata: Tunjukkan pada hambamu yang lemah ini, mana ibadahku untuk-Mu !” Tuhan berkata :“Berkhidmatlah kepada hamba-hambaku”

Dalam sebuah hadits qudsi juga disebutkan dialog antara Nabi Musa dengan Allah. “Hai Musa, tahukah engkau bahwa ada seorang hamba di antara hamba-hamba-Ku yang mempunyai dosa dan kesalahan yang begitu banytak sehingga memenuhi sudut-sudut langit. Tetapi aku tak hiraukan dosa-dosanya; semua aku ampuni. “menagapa tidak Kau hiraukan, Ya Rabb ?” “Karena ada satu hal yang mulia yang aku cintai dalam dirinya:ia mencintai fakir miskin. Ia bergaul akrab dengan mereka. Ia menyamakan dirinya seperti mereka. Ia tidak sombong. Jika ada hamba-hambaKu seperti dia, aku ampuni dia dan aku tidak hiraukan dosa-dosanya.”

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *