Mudik

Ilustrasi | Int

Ilustrasi | Int

Oleh: Mohd. Sabri AR

Dari gelombang manusia jelang lebaran tiba:  di terminal-terminal yang gaduh, di stasiun kereta yang riuh, di pelabuhan laut yang saling desak,  di bandar udara yang bising, di antrian panjang jalan raya yang macet; Apa  sejatinya yang hendak mereka ungkap? Jawabnya: “Mudik.” Satu diksi dari kultur Melayu-Nusantara yang berakar dari kata “udik” bermakna “kampung pedalaman.” Mengapa setiap orang, yang melakukan perjalanan jauh dan lama tak kembali ke kampung, acap kali tersengat rindu untuk segera pulang?  Mengapa diksi tentang “pulang” (raja’a) dengan berbagai derivasinya: yarji’u, irji’î, râjiûn, dan seterusnya memiliki makna fundamental dalam tradisi Alqur’an? Jawabnya: pulang hanya bisa dicapai oleh mereka yang tahu asal-usul.

Sementara, di kampung nun jauh di pedalaman, kehidupan demikian eksotik dan berwarna: rumah-rumah dan pagar halaman dicet ulang, kursi dan sofa baru dipajang, anak-anak meledakkan meriam bambu, dan anyaman ketupat daun pandan pun riuh di setiap rumah tangga. Semua berporos pada satu tujuan: menyambut sang-pemudik “pulang” setelah sekian lama di rantau. Ada setangkup kerinduan-biru yang terbit di sana, namun  tak tercakapkan. Semua berlangsung pradah dan sublim.

Ramadan, mudik, dan idul fitri bukan sebilah garis linear, tentu. Tapi matriks keimanan yang mengandaikan momen pengalaman sang-ego dalam “menyelami” diri.

Ramadan bermakna “pembakaran,”—identik  dengan purgatorio dalam karya penyair Dante—Divine Comedy. Ibarat terpisahnya emas dari logam yang merengkuhnya justru ketika dibakar pada titik didih tertentu. Ramadan juga  momen refleksi: melihat ke dalam diri guna menemukan ego-otentik. Sejauh ini kita mungkin gandrung melemparkan ego “keluar”  dan termangsa  simulakrum: citra, prestise, status, mode, dan gaya hidup. Di titik ini—secara moral—ego tercerabut dari kebahagiaan (paradiso), kesucian primordial (fitrah) dan tercampak dalam kegelapan (inferno). Itu sebab, alegorisme Alqur’an mengandaikan ego yang bangkit dan meretas dari selubung “ego-gelap” tak-otentik menuju “ego-cahaya” yang otentik: min al-zhulumâti ila al-nûr.

Dalam tradisi Abrahamic Religions—Yahudi, Kristen, dan Islam—simbol  “kejatuhan” manusia-primordial dan terusir dari paradiso, diwakili oleh narasi tentang Adam dan Hawa. Meski kedua insan pertama dan nenek moyang seluruh manusia itu pada urutannya mendapat ampunan Tuhan karena teguh menjalankan “kalimat-kalimatNya” (Qs. 2: 37), namun mereka mewariskan anak cucu yang kesucian-primordialnya selalu terancam jatuh. Sebab itu, setiap orang berpotensi jatuh dan terjebak pada ego-tak-otentik alias ego-palsu.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *