Mudik

Ilustrasi | Int

Ilustrasi | Int

Menahan  diri di alam purgatorio ramadan bertumpu pada ide latihan “membakar” ego-palsu agar menemukan ego-otentik dan sepenuhnya menghayati “Kemahahadiran Allah” dalam segenap napas kehidupan. Sebilah episentrum cahaya yang membawa manusia-puasa menemukan kesucian primordialnya yang sirna dan kembali “ke Asal-yang-suci” (‘îd al-fithr).

Kerinduan manusia untuk selalu menyucikan ruhaninya, melahirkan naluri kuat untuk kembali “ke Asal-yang-suci”. Seyyed Hossein Nasr dalam Knowledge and Sacred (1992) mendaku, rindu untuk selalu kembali “ke Asal-yang-suci”, tidak semata dialami manusia tapi  juga seluruh kosmik. Naluri kosmik untuk kembali  “ke Asal-yang-suci” menuju Tuhannya menyebabkan terjadinya gerak siklis laksana tawaf dalam tradisi haji: atom bertawaf pada sumbunya, bulan mengelilingi bumi, bumi mengitari matahari, matahari beredar mengitari galaksi, dan seterusnya.  Gerak siklis “memusat-melingkar”  yang berbenturan “arah jarum jam” itu, pada urutannya berakhir pada titik pusat “Kesadaran Eksistensi”  yang dalam teologi disebut sebagai Tuhan. Ini pula makna esensial firman Tuhan: Innâ Lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn: Sungguh kita semua berasal dari Allah, dan hanya kepada Allah kita “kembali”. Di titik ini, jejak telaga suci keruhanian Islam mengalir deras dalam jantung narasi kebudayaan Bugis-Makassar: “amminro” (Konjo), “ammaliang” (Makassar) dan “lisu” (Bugis) yang juga mengandaikan gerak siklis “pulang” ke Asal.

E.F. Schumacher (1990), menyebut ilustrasi gerak siklis “kembali ke Asal yang suci” di atas sebagai “the hierarchy of existence”: mulai dari Tuhan pada tingkat tertinggi dan tak tepermanai (Infinitum) hingga manusia dan benda-benda “di bawah” manusia. Atau sebaliknya: dari benda-benda mati (terrestrial) di tingkat paling rendah hingga Tuhan pada tingkat tertinggi. Dengan begitu Tuhan adalah “Titik Berangkat” dan “Titik Pulang” seluruh realitas.

Inilah akar doktrin “persaudaraan kosmik” antara kosmik dan manusia dalam melakukan pergerakan bersama “kembali” atau “mudik” ke Asal yang-suci. Akibatnya, lahir “senyawa” kimiawi manusia-kosmik: realitas-benda (terrestrial) “bersenyawa” dengan tubuh (body); realitas-cakrawala (intermediate) dengan pikiran (mind); realitas-langit (celestial) dengan jiwa (soul), dan “realitas-tak-tepermanai” (infinitum) dengan ruh (spirit) manusia.

Itu sebab, keterpanggilan ego-otentilk atau ruh yang bersifat Ilahi  untuk selalu menyucikan dirinya dan kembali kepada Tuhannya, menjadi sumbu seluruh pergerakan “Mudik ke Kampung Asal-yang-suci” dan mengepung kerinduan absolut setiap ego. Bukankah pulang, adalah sebuah gerak kepastian yang mengandaikan seseorang menemukan dirinya tak jauh dari titik dimana ia berangkat? Mudik, sebab  itu, bukan hanya urusan orang-orang yang ingin pulang, tapi juga mereka yang mau berangkat.

Penulis merupakan dosen UIN Alauddin Makassar

Penulis merupakan dosen UIN Alauddin Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *