Kampus dan Korupsi

Aswar Hasan

Oleh : Aswar Hasan

Universitas adalah rumah terakhir bagi pencari keadilan dan kebenaran, tanpa paksaan dan tekanan. Juga merupakan tempat berkecambah, bertumbuh dan berkembangnya moralitas kemanusiaan. Kejujuran merupakan watak  dasar yang mewarnai perilaku kehidupan  komunitasnya.

Orang-orang Universitas di setiap kampus senantiasa disibukkan dengan aktivitas mengajar dan mengejar kebenaran berdasarkan moralitas kejujuran, keadilan, independensi (kemerdekaan) tanpa boleh diintervensi oleh siapapun dan untuk kepentingan apapun, demi tegaknya kebenaran sebagai tujuan akhir dari pergumulan eksistensi ilmu pengetahuan bagi segenap ilmuwannya.

Meski pun untuk saat ini, sejumlah orang kampus di beberapa universitas tidak lagi mencerminkan perilaku insan akademik yang cuma disibukkan oleh aktivitas mengajar, meneliti, dan mengabdikan ilmunya di tengah masyarakat, demi bertegaknya muru’ah kecendekiawanan komunitas kampus.

Telah menyeruak fenomena baru di kalangan orang kampus yang ditandai dengan maraknya praktik gaya hidup mewah. Rumah kediaman mereka, dibangun semewah mungkin, layaknya rumah orang kaya.  Isinya pun, disarati berbagai fasilitas perabot merek bergengsi. Buku dan perpustakaan serta alat kelengkapan lainnya yang menunjukkan bahwa mereka sebagai seorang dosen atau ilmuan, tidak lagi tercermin di setiap sudut dan ruang rumah mjereka.

Buku atau alat kelengkapan pengetahuan lainnya, telah tergeser menjadi urutan prioritas yang ke sekian. Makanya, setiap kali mereka masuk kelas mengajar, materinya tidak berubah dari tahun ke tahun.

Perlahan mulai menyata, prinsip dan gaya hidup yang sederhana tapi berwibawa, secara pasti mulai mereka tinggalkan. Hidup mereka pun berbiaya tinggi. Maka, rutinitas mereka disarati dengan mencari materi dan kemewahan hidup dengan jalan mengecer ilmu. Bahkan ada yang sampai menggadaikan ilmu pengetahuan yang ada pada mereka.

Seiring dengan itu, kompetisi di dunia kampus pun telah bergeser dari kompetisi temuan teori dan aplikasinya serta inovasi pengetahuan, menjadi kompetisi mencari dan menduduki jabatan. Mirisnya, kompetisi itu, dilakukan tidak jauh beda dengan kompetisi politik Pilkada. Para petinggi Universitas itu, tiba-tiba bertindak seolah adalah politisi yang piawai menjegal lawan dan ahli propaganda dalam rangka menggalang pendukung. Ada tim sukses, ada pertemuan di hotel berbintang, berikut voucher gratis bermalam bersama keluarga. Konon, hingga ada titipan amplopnya, sebagai alas keperluan lainnya, selama bermalam di hotel.

Maka, kita pun menjadi tidak kaget, ketika Harian Kompas mengetengahkan berita utama dengan judul: “KPK Endus Indikasi Masalah. Dilaporkan Dugaan Suap dalam Pemilihan Rektor PTN.” Toh Faktanya, telah ada beberapa petinggi universitas yang telah ditersangkakan dan dipenjara gara-gara korupsi. Akankah kampus bisa menjadi basis anti korupsi? Semoga bisa, karena kampus adalah benteng kita yang terakhir,  melawan korupsi. Wallahu A’lam Bishawwabe.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *