Esai Arum Spink: Appi-Cicu, Sempurna..! (Catatan Pertama)

Stadion Mattoanging menjadi saksi untuk kali pertama saya bertatap muka, bersalaman dan berinteraksi dengan Appi. Sore itu, saya mendampingi Rusdi Masse (RMS) melihat langsung suasana latihan skuad baru PSM sebelum Liga 1 dimulai. Kehadiran RMS dalam rangka memberi support moril dan materil kepada PSM sebagai ikon persepakbolaan di Sulsel.

Kembali ke Appi. Kesan pertama bersua dengannya, ada “kesejukan” yang tertangkap. Wajah bersahaja berbalut senyum, terkesan ramah. Friendly dan ‘mabbarakka”. Apakah krn air wudhu? Saya percaya itu.

Tapi bukan hanya itu. Mungkin terkesan berlebihan. Saya “jatuh hati” justru krn ia berjanggut, Celana jingkrang dan ada bekas di jidatnya. Nampak simbolik. Tapi itulah saya. Selalu respek pada hal-hal simbolik. Bagi saya, pada diri Appi ada simbol tertera yang mewakili ketaatannya kepada Sang Khalik. Ketaatan itu buah dari rasa rasa takutnya kepada Allah.

Saya tak butuh waktu lama untuk percaya kepada seseorang jika simbol itu telah terbit. Meski ia bukan satu-satunya instrumen dan indikator sblum menstempelnya. Simbol itulah menjadi penandaku bahwa seseorang yang baik di agamanya akan baik pula diserahi amanah.

Agama, ketika menjadi sandaran dan rujukan selalu berbuah kebajikan. Tak di dunia, terlebih di akhirat. Apapun urusannya, tak terkecuali latar belakangnya. Seorang profesional, beragama lalu taat, akan menjadi profesional yang penuh etika, melayani dengan hati dan selalu total memberi yang terbaik. Kenapa..? Karena Tuhan menjadi tujuan, bukan manusia yang dilayaninya. Agama mendalamkan tujuan kerjanya.

Lihatlah saat seorang Appi, CEO PSM tak mau mengatur, diatur dan tunduk apapun di pertandingan PSM hanya karena semata ingin menang. Ada kemenangan lain yg dipandangnya lebih memuliakan, yaitu menang di mata Tuhan.

Pemimpin pun demikian. Jika agama selalu menjadi rujukannya, maka lihatlah sesuatu luar biasa di baliknya. Singkatnya, ketika NasDem, tempat saya berjuang di dunia politik, hari ini memberikan rekomendasi kepada Appi dan Cicu sebagai balon Walikota Makassar, maka tanpa berfikir lagi, segera saya menyebut bahwa langkah itu sudah tepat dan benar adanya. Bismillahirrahmanirrahim…..

Cicu, tanpa perlu saya jelaskan panjang. Di samping karena memang saya koleganya, di kanal ini sudah beberapa kali saya menuliskan hal positif tentangnya. Yang ingin saya tambahkan bahwa Cicu itu seorang pejuang. Saya tahu bahwa Cicu sadar teramat banyak yg meragukan kemampuannya. Disebutnya sejumlah prestasi yang diraihnya kini adalah buah warisan dari nama yg melekat di nasabnya. Di sinilah perjuangan Cicu. Ingin menunjukkan bahwa penilaian itu keliru untuk mengganti kata salah. Inilah moment yang memompa Cicu mengeluarkan semua kemampuannya. Lihat saja nanti.

Blum lagi soal gender perempuan. Sejak mengenalnya, Cicu sosok yang multi talenta. Seorang Dokter, politisi dan pernah jadi penyiar radio. Sempurna, begitu saya kerap menyebutnya. Dan, ia selalu total apapun yang digelutinya.

Sekarang, mari memadukannya. Ada profesional yang agamawan. Ada pejuang perempuan, berpengalaman dan multi talenta. Mereka berdua telah mewakafkan dirinya untuk Makassar 10x lebih baik. Mari membersamainya. Bagi saya, ini pasangan hebat. Belum tentu akan ditemukan di lima tahun datang. Mumpung taqdir memberi penyajian, menyiakannya adalah sebuah kerugian.

Pilih Appi Cicu atau Makassar terus berjalan di tempat….!!!

 

Arum Spink
Anggota DPRD Provinsi Sulsel Fraksi Partai Nasdem

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *