Kisah Pilu Saksi Penggugat Kasus CPI

20160510110638

Saksi pihak penggigat sebelum diambil sumpahnya oleh Majelis Hakim di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) di Jalan Raya Pendidikan Makassar Selasa, 10/5/2016. | Saifullah

Makassar, LiputanLIMA.com – Bergulirnya kasus reklamasi Center Point of Indonesia (CPI) di sekitar kawasan pantai Losari Makassar, kini sudah pada tahap sidang mendengarkan keterangan saksi, di Pengadilatan Tata Usaha Negara (PTUN), jalan raya Pendidikan Makassar, Selasa (10/5/2016).

Kuasa hukum penggugat menghadirkan empat saksi fakta dalam kasus ini. Daeng (Dg) Bollo, pertama memberikan kesaksian dan diambil keterangganya setelah keempat orang bersamaan disumpah oleh majelis hakim, di depan kedua belah pihak penggugat dan tergugat.

Dg Bollo, perempuan lahir di Barombong, tinggal di Gusung (Tanah Tumbuh) sejak 1977, korban rumahnya digusur dan dibakar mengatakan sudah tiga tahun tidak bekerja dan tidak punya tempat tinggal yang layak, “Sekarang tinggal di pinggir gedung CCC,” jelas Bollo memberikan keterangan di depan majelis hakim.

Sebelumnya, ia tinggal di Gusung semenjak tahun 1977 hingga tiga tahun ke belakang, rumahnya digusur rata dengan tanah oleh pihak pemerintah dan bahkan dibakar. Akibatnya, pemilik tujuh anak itu, tinggal di gubuk, tepatnya di emper belakang gedung CCC.

Bollo seorang perempuan yang punya keterampilan melaut atau mencari nafkah di laut mengaku semua anaknya dilahirkan di tanah Tumbuh. Pada saat memberi kesaksian, ia menjelaskan bahwa dirinya punya banyak tanaman seperti bakau, kelapa dan lain sebagainya yang ditanamnya di Tanah Tumbuh.

Menurutnya, dari pohon mangrove yang ia tanam itu, ia bisa mendapatkan kepiting, udang dan jenis ikan lainnya, karena bagian bawah pohon itu  disukai para mahluk-mahluk laut tersebut. Hasil tangkapan yang didapat dari pepohonan dan hasil tangkapan dari laut kemudian dijual di dua Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Rajawali dan Paotere, Makassar.

Korban rumahnya digusur itu mengaku memiliki tambak saat masih di tanah Tumbuh sebelum ditimbun, “Ada Empangku, tidak cukup satu hektar, saya isi udang Sitto, ikan bolu dalam empang itu,” aku Bollo.

Saksi pertama itu, menjelaskan bahwa penghasilan perhari yang diperoleh sebelum ada reklamasi dan rumahnya digusur penghasilan perhari kurang lebih satu juta dan punya banyak perahu. Ia juga mengatakan awalnya tumbuh sendiri, namun setelah itu, ia mengembangbiakkan.

“Saya dikasi surat, dalam surat itu saya dituduh penduduk liar, besoknya digusur mi rumahku. Tanah itu saya garap 10 hektar sampai di laut. Pohon bakau hilang sejak digusur oleh pihak pemerintah,” tegasnya di akhir.

Saksi kedua, Samsuddin Dg Gasa, tinggal di Mariso, berprofesi sebagai nelayan mengaku tidak mengetahui akan ada penggusuran di gusung ketika itu, karena tidak ada pemberitahuan. Lantaran digusur tempatnya mencari ikan ia mencari nafkah memenuhi kebutuhan hidupnya dengan menjadi tukang batu.

“Karena ditimbun sehingga tidak bisa mencari ikan pada kedua jembatan itu, yang awal dan jembatan akhir dibangun, keduanya biasa saya tempati mencari ikan dan kerang. Selama dibangun jembatan, saya tidak pernah lagi melaut,” jelas Samsiddin Dg Gasa.

Saksi ketiga dari pulau Laelae, Dg Situju bekerja sebagai nelayan, bekerja sebagai pencari Ambaring dan sering mancing di tempat antara pantai Losari dan Gusung. Situju mengatakan di Gusung memang ada pohon Bakau, pada akarnya sering ditempati mencari Ambaring.

Ambaring atau udang-udang kecil itu biasa  dijual secara langsung, kadang diolah menjadi terasi dan biasa dijadikan umpang untuk memancing. “Iyya, sering mancing di antara pantai Losari dan Gusung pada saat musim barat,” ungkap Situju.

Sebelum ada reklamasi,  dia biasa mendapat ambaring 50 sampai 100 keranjang. Namun, setelah ada reklamasi sekarang turun. Bahkan tiga tahun terakhir semakin menurun, antara 5 sampai 10 keranjang.

Ikan karang, ikan sunu dan katambak yang biasa dipancing di karang sekitar Tanah Tumbuh semenjak ada reklamasi tidak ada lagi ikannya. “Tidak pernah ada informasi dari pihak pemerintah bahwa akan ada reklamasi di pantai, saya sebagai ketua organisasi nelayan di Laelae, tidak pernah ada penyampai bahwa di situ dilarang melakukan penangkapan ikan,” jelas Situju.

H. Sukiman Sebagai pengumpul ikan dari para nelayan untuk dijual mengaku sedikit kesulitan menjual ikan, karena sebelum ada reklamasi ia punya dua tembat menjual ikan, yakni di TPI Rajawali dan TPI Paotere. Lantaran ada reklamasi, jalur kapal untuk ke Rajawali sulit untuk masuk sehingga menjual ikan sekarang hanya di Paotere.

“Jadi untuk penghasilan sekarang sangat menurun dari sebelumnya,” ungkapnya.

(Saifullah/Suryani Musi)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *