Isu Pemimpin Bersih di Pilkada Takalar, Begini Analisis Pengamat

fb_img_1479000959947

Riswadi Taroempoe, Peneliti SMRC Indonesia Timur

Makassar, LiputanLIMA– Pilkada Takalar diwarnai banyak isu menarik. Bertepatan dengan pengundian nomor urut pasangan calon, publik dikagetkan isu penetapan tersangka terhadap calon petahana, Burhanuddin Baharuddin atas kasus penjualan lahan negara di Laikang, Mangarabombang Takalar. Meski kemudian berita tersebut diluruskan pihak penegak hukum. Isu ini terus bergulir dengan diperkuat wacana untuk memilih pemimpin bersih. Lantas seperti apa hal tersebut mempengaruhi perilaku pemilih di Pilkada Takalar.?
Peneliti Saiful Mujani Research Centre (SMRC) Indonesia Timur, Riswadi Tarompoe mengemukakan bahwa isu tersebut tidak mempengaruhi sikap dan pilihan masyarakat secara signifikan. “Berpengaruh sih iya, tapi data yang kami punya, tidak berubah secara signifikan.”ujar Atto, sapaannya, Sabtu (12/11/2016). Kordinator wilayah SMRC Indonesia Timur menjelaskan hal tersebut disebabkan kurang efektifnya pihak penantang incumbent mendistribusi isu ini ke akar rumput. “Akar rumput tidak mengkonsumsi isu ini secara masif.”tambahnya lagi. Menurut pengamatannya, masyarakat Sulsel secara umum, akan jauh lebih reaktif menentukan pilihan jika kandidat tersangkut kasus moral. “Nah, kalau incumbent bergerak lebih massif, maka peluang tumbang makin kecil,”paparnya. Apalagi menurutnya incumbent telah memiliki karya selama empat tahun terakhir.
Sementara untuk Syamsari Kitta – Haji De’de, Atto menilai kandidat usungan PKS dan Nasdem ini masih perlu bekerja ekstra keras. “Program yang ditawarkan sangat bagus. Tinggal bagaimana cara untuk meyakinkan pemilih bahwa program yang ditawarkan benar benar baru.”urai Atto. Karena menurutnya, beberapa program telah diklaim petahana telah terlaksana. “SK-HD harus memikirkan bagaimana distribusi isu rencana program mereka bisa dipahami dengan baik. Masyarakat Takalar cenderung sudah berfikir rasional tentang program pemerintah.”jelasnya lagi.
Lantas, bagaimana pihaknya memprediksi hasil Pilkada Takalar?. Atto menjelaskan bahwa kondisi pemilih masih cair di akar rumput. “Terlalu dini kita prediksi siapa pemenangnya. Sangat dinamis. Lagian kampanye masih ada seratusan hari. Semua masih bisa terjadi,”kunci Atto.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *