Akademisi Unhas: NA Harus Disanksi Jika Terbukti Tiap Bulan ke Luar Negeri Tanpa Izin

MAKASSAR, LiputanLIMA.com – Isu Bupati Bantaeng, Nurdin Abdullah (NA) yang diduga kerap kali ke luar negeri tanpa ada kejelasan apakah mengantongi surat izin, terus menjadi perbincangan publik.

Dugaan perjalanan ke luar negeri diperkuat dengan beredarnya video di media sosial yang memunculkan catatan perjalanan NA ke Jepang, dengan yang disebut-sebut melalui maskapai penerbangan di Indonesia.

Mengacu pada aturan, kepala daerah yang melakukan perjalanan ke luar negeri, apakah untuk urusan dinas, berobat, atau kepentingan pribadi, mesti mendapat izin dan disampaikan ke Gubernur sebelum diteruskan ke Mendagri.

Sebab jika tidak, kepala daerah harus menanggung sanksi berat, yakni pemberhentian sementara. Seperti yang diterapkan ke Bupati Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, Sri Wahyumi Manalip belum lama ini.

Bupati berparas cantik itu diberhentikan lantaran ke luar negeri tanpa izin Mendagri dan dinilai mengabaikan pekerjaan dan tanggungjawabnya sebagai kepala daerah.

Terkait itu, Pengamat Hukum dari Universitas Hasanuddin, Muh Hasrul yang dimintai tanggapannya menilai, jika hal tersebut memang benar, maka Bupati bersangkutan harus diberhentikan oleh Kemendagri.

“Kalau memang benar maka Mendagri harus mengambil tindakan tegas. Seperti Bupati Talaud,” kata Muh Hasrul, Minggu (21/1/2018).

Menurut Hasrul,hal ini tidak harus dibiarkan. Perlu dicek lebih jauh, dan jika memang benar maka Bupati yang bersangkutan sama saja melecehkan keberadaan Mendagri dan pemerintah satu tingkat diatasnya, yakni Gubernur Sulsel.

Menurutnya, untuk mendapat izin perjalanan ke luar negeri tidak terlalu sulit. Hanya menyampaikan kepada Gubernur sebagai perpanjangan tangan Pemerintah Pusat di Daerah.

“Mesti dicek dulu. Kalau benar begitu, berarti sang Bupati menafikkan keberadaan pemerintahan diatasnya. Padahal tidak susah, cukup lapor ke Gubernur. Gubernur kan juga sebagai wakil pemerintah pusat di daerah,” kata dia.

Dia menegaskan, semestinya Pemerintah Provinsi dan Mendagri sudah harus membentuk tim untuk mencari kebenaran informasi ini. Dan jika memang terbukti, maka tidak ada alasan, NA harus diberhentikan segera.

“Segera nonaktifkan yang bersangkutan. Sama halnya dengan Bupati Talaud,” tandasnya.

Dari info yang beredar tersebut, menjelaskan jika Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah diduga terekam perjalanannya dengan tujuan Haneda Airport Jepang, periode Oktober 2016 – Desember 2017. Tercatat, NA ke Jepang hampir tiap bulan. Rata-rata di Jepang selama lima hari setiap berkunjung.

Hanya saja, belum diketahui pasti tujuan perjalanan ke Jepang yang diduga tiap bulan itu. Apakah untuk urusan bisnis, dinas, ataukah berobat. Begitu juga mengenai anggarannya, apakah menggunakan dana pribadi atau APBD.

Jika benar NA keluar negeri tanpa izin Mendagri maka itu melanggar Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah khususnya Pasal 76 ayat 1 huruf I dan huruf J.

Dalam ketentuan perundangan itu, Kepala Daerah atau Wakil Kepala Daerah yang melakukan perjalanan ke luar negeri tanpa izin dikenai sanksi pemberhentian sementara selama 3 bulan. Seperti yang dialami Bupati Kepulauan Talaud Sri Wahyumi belum lama ini. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *