Gurutta Rafii Yunus Wafat, Amran Mahmud: Kita Kehilangan Ulama Kharismatik

WAJO, LiputanLIMA.com- Kabar duka menghampiri Sulsel, khususnya di Kabupaten Wajo. Ulama kharismatik, Anregurutta Prof Dr Rafii Yunus Martan, menghembuskan nafas terakhirnya sekitar Pukul 19.30 Wita di Rumah Sakit di Makassar, Senin (29/1/2018).

Kabar duka yang mendalam ikut dirasakan pasangan Amran Mahmud-Amran SE sesaat setelah mendapat kabar berpulangnya Pimpinan Pondok Pesantren As’adiyah itu.

“Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun. Telah berpulang ke Rahmatullah AG Prof Dr HM Rafii Yunus Martan, MA hari Senin 29 Januari 2018 Pukul 19.24. Insya Allah dimakamkan di Sengkang Hari Selasa 30 Januari 2018,” pesan singkat Amran Mahmud yang dikirim ke group WA, dan kerabatnya.

Di mata Amran Mahmud, Gurutta adalah ulama kharismatik yang dimiliki Sulsel. Selain kesederhanaan yang dimiliki, juga tekadnya membumikan syiar Islam selalu menggebu-gebu. Itu sebabnya pula, Gurutta memimpin As’adiyah selama tiga periode.

“Kepergian Gurutta meninggalkan duka mendalam. Kita kehilangan lagi ulama besar yang selama ini menjadi panutan yang tanpa pamrih mewakafkan hidupnya untuk kemaslahatan ummat dan bangsa,” terang Amran Mahmud.

Menurut dia, kepergian Gurutta merupakan duka bagi warga Wajo. Apalagi selama ini, Gurutta sangat aktif mengurus lembaga pendidikan keagamaan, sekaligus berperan besar melahirkan berbagai tokoh dan pemuka agama di Sulsel.

“Apa yang diwariskan Gurutta harus terus kita jaga bersama. Atas nama pribadi dan keluarga, kami sangat merasakan duka atas berpulangnya Gurutta,” tambah Amran Mahmud yang juga Dosen di Perguruan Tinggi As’adiyah.

Di mata Amran Mahmud, Gurutta adalah ulama yang sangat santun, dan punya kedalaman pengetahuan yang sangat kaya. Begitu pun tak membeda-bedakan orang atau santri dalam berbagi pengetahuan.

Amran cukup beruntung berulangkali mendengar dan mendapat syiar keagamaan langsung dari Gurutta terutama saat almarhum masih sehat, dan menghabiskan banyak waktunya di Wajo.

Bukan hanya itu, Amran juga berterimakasih kepada Gurutta, karena di saat menyusun disertasi gelar doktornya, Gurutta adalah salah satu promotornya.

“Gurutta banyak memberi masukan atas disertasi yang saya susun saat itu. Sekali lagi, sungguh saya kehilangan atas kepergian Gurutta,” pungkas Amran.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *