Nurdin Halid : Selamat Tahun Baru Imlek 2018

MAKASSAR, LiputanLIMA.com- Calon Gubernur Sulsel, Nurdin Halid (NH), menyampaikan selamat Tahun Baru Imlek 2018 kepada segenap warga Tionghoa yang merayakannya. Diharapkan dia, segala harapan dan doa, khususnya untuk kemajuan Sulsel dapat terwujud. Tidak kalah penting, kerukunan dan tali persaudaraan antar-sesama umat terus terjaga.

“Saya dan keluarga mengucapkan selamat Tahun Baru Imlek bagi seluruh warga Tionghoa yang merakyat. Semoga yang terbaik untuk kita semua, utamanya buat Sulsel Baru yang lebih sejahtera,” kata Ketua Koordinator Bidang Pratama DPP Golkar itu, Jumat, 16 Februari.

Momen perayaan Tahun Baru Imlek, NH menekankan harus tetap dijaga. Bukan hanya oleh warga Tionghoa, tapi juga segenap warga dari berbagai lapisan di Sulsel maupun di Indonesia. Perbedaan atau pluralisme yang ada, sambung dia, harus dirawat dalam bingkai kebersamaan.

“Bangsa Indonesia hidup dalam keanekaragaman. Nah, pluralisme itu adalah benteng persaudaraan dalam mempertahankan keutuhan dan tegaknya NKRI. Termasuk di Sulsel, dimana kita harus menghargai perbedaan dan mengedepankan sikap toleransi,” pesan mantan Ketua PSSI itu.

Menurut NH, salah satu aspek penting yang menjadi perhatiannya bila terpilih menjadi Gubernur Sulsel yakni merawat toleransi. Kebersamaan antar-umat beragama dan suku mesti dijaga karena merupakan faktor penting yang menunjang akselerasi pembangunan dan perekonomian.

NH bahkan berani menjamin tidak bakal ada yang namanya diskriminasi terkait agama, suku maupun hal lainnya bila kelak terpilih. “Negeri ini hidup dengan semangat benteng pluralisme. Kita tidak butuh intoleransi. Insya Allah, bila ditakdirkan menjadi gubernur, saya menjamin tidak bakal ada perbedaan perlakuan apalagi pelayanan (kepada seluruh elemen masyarakat),” tegasnya.

Menurut NH, dasar negara yakni Pancasila mengajarkan untuk menghargai perbedaan. Malah, perbedaaan itu adalah kekuatan untuk terus maju, melangkah bersama meraih kesejahteraan. “Dengan disepakatinya Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia, maka segala perbedaan itu selesai. Itu karena (Pancasila) sumber dari segala sumber hukum negara,” pungkas dia. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *