‘Benci dan Cinta’ Wartawan dan Pengusaha dalam Kode Etik Pers

Para-wartawan-Foto-593x360

Ilustrasi para wartawan berfoto | Int

Makassar, LiputanLIMA.com – Sejak awal Reformasi ada kendala yang dihadapi dalam menegakkan kode etik jurnalistik pada umumnya. Diakui atau tidak, bahwa kendala yang dihadapi dalam menegakkan etika jurnalistik beberapa tahun terakhir tidak terlepas dari berbagai perubahan yang terjadi dengan bergulirnya Reformasi, termasuk di bidang pers.

Melihat persoalan tersebut kian berlarut-larut, Pusat Pengkajian Pengembangan dan Riset Komunikasi (P3RK) Universitas Muslim Indonesia (UMI) gelar diskusi komunikasi, yang dilaksanakan di Aula Fakultas Sastra dan Ilmu Komunikasi UMI, Rabu (06/4/2016).

Kegiatan yang mengusung tema “Gagal Paham UU Pers dan Malpraktek Kode Etik” ini dibuka langsung oleh ketua jurusan Fakultas Sastra dan Ilmu Komunikasi (FSI), Abd Majid.

Salah satu masalah kode etik yang dikemukakan oleh Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Anno Suparno adalah pelaku media dengan pengusaha tidak bisa terpisah satu sama lain. Meski demikian, ada kalanya keduanya tidak sejalan.

Meski dinilai, di satu sisi media harus menjalankan tugas dan tanggungjawabnya terhadap publik, bahwa dia harus memberi informasi.

Persoalan selanjutnya yang kerap kali menimpa wartawan, adalah ketika punya masalah lalu masalah tersebut dibawa ke ranah hukum.

“Biasanya ketika orang mengeluh dan melaporkan wartawan, mereka langsung ke polisi padahal wartawan juga diikat oleh kode etik, yang seharusnya pelapor ke dewan Pers dilaporkan ke polisi. Akhirnya benturan antara UU dengan kode Etik Wartawan,” jelas Jumadi Mappanganro ketua PJI, yang menjadi narasumber kedua.

 

(Saifullah/Suryani Musi)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *