Ini Ancaman yang Mengintai Para Pecandu Film Porno

nonton-bokep-dt-201405312132491

Ilustrasi seseorang yang lagi menonton film bokep | Int

Australia, LiputanLIMA.com – Berbeda dengan 20-an tahun yang lalu, mengakses pornografi sekarang ini mudah sekali. Sama mudahnya dengan mengakses facebook dan twitter. Ya, lewat HP sudah bisa.

Kebiasaan seseorang menonton film porno tak ubahnya seperti seseorang perempuan pergi belanja atau nyalon. Ibaratnya, akan dilakukan kapan pun ada waktu senggang. Dan seperti kita tahu bahwa pornografi mempunyai efek yang membahayakan otak, jiwa, dan fisik kita.

“Sebagian orang memandang kebiasaan ini sebagai penyakit moral. Kami sendiri mengambil sudut pandang bahwa kebiasaan ini bukanlah suatu penyakit, apalagi penyakit moral, melainkan suatu bagian yang normal dari pertumbuhan,” papar Profesor Raj Sitharthan dari Department of Psychiatry, University of Sydney, Australia. “Memang banyak orang yang menontonnya secara berlebihan. Namun, mereka bisa belajar untuk mengurangi kebiasaan ini jika mereka mau.”

Menurut Dr Raj, adiksi film porno mirip dengan adiksi terhadap alkohol. Dalam beberapa penelitian sebelumnya, ia mendapati bahwa orang yang mengonsumsi alkohol secara berlebihan setiap hari pun mampu mengurangi kebiasaannya minum.

Dalam praktik di kliniknya, pasien yang kecanduan pornografi mengurangi “asupan” film pornonya dengan cara tidak diberi uang untuk membeli film-film porno, dan aksesnya ke komputer atau perangkat lain dibatasi.

Bersama rekannya, Dr Gomathi Sitharthan dari Faculty of Health Sciences (juga dari University of Sydney, Australia), Dr Raj menggelar sebuah survei terkait kebiasaan orang mengakses pornografi. Mereka mendapati bahwa 20 persen dari 800 partisipan memilih nonton film porno agar bisa membangun keintiman seksual dengan pasangannya. Sebanyak 47 persen responden menghabiskan antara 30 menit hingga 3 jam sehari untuk nonton film porno. Sebanyak 14 persen membina hubungan dengan pengguna internet lainnya, dan 18 persen biasa berfantasi seksual ketika sedang tidak online.

Namun, terlalu sering nonton film porno memberi pengaruh yang kurang baik terhadap hubungan dengan pasangan, kondisi keuangan, maupun studi seseorang. Misalnya, 30 persen responden mengakui bahwa performa kerja mereka terganggu. Beberapa pasien Dr Raj sendiri juga mengalami perilaku ekstrem akibat kecanduan film porno. Pasiennya yang seorang siswa sekolah menolak berangkat ke sekolah, dan mengabaikan teman-temannya, dan memilih nonton film porno sampai dini hari.

“Cepat atau lambat, hal ini akan mengambil alih hidup mereka, dan menjadi satu-satunya hal yang bisa memberi kepuasan untuk mereka,” katanya (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *