Daripada Malu-Maluin Terus, Baiknya Pasha Baca Ini

pan-ingatkan-pakaian-pasha-ungu-jangan-aneh-aneh-vsXrkgrSca

Pakaian Pasha Ungu yang nyeleneh menimbulkan banyak kritik terhadapnya | Int

Palu, LiputanLIMA.com – Nama Wakil Wali Kota Palu, Sigit Purnama Said alias Pasha, lagi-lagi ramai diperbincangan oleh netizen. Setelah kepergok merokok di kawasan anti rokok, vokalis band Ungu ini kembali disorot. Lalu yang terakhir adalah Pasha mengenakan pakaian yang disematkan pin praja wibawa (Satpol PP), wing marinir hingga lencana pelopor lantas lalu membuat heboh media sosial.

Berbagai macam komentar datang dari netizen terhadapnya. Termasuk pemilik akun media sosial, Ade Supratma. Berikut ini tulisannya:

Sigit Purnomo Said: Dia dikenal dengan nama Pasha Ungu. Ini karena dia adalah anggota grup band Ungu. Dia artis. Bahkan pernah duduk di papan atas dalam kebudayaan pop nasional.

Artis adalah soal kemudaan. Ketika kemudaan itu menyurut, menurun pula popularitas. Saingan dari yang lebih muda, kelelahan berkreasi, dan orientasi hidup yang makin  mapan, membuat artis harus mengubah cara hidupnya.

Reformasi menawarkan sesuatu untuk mereka, para artis yang tidak lagi laku. Mereka bisa jadi politisi. Sodara bisa lihat kehadiran mereka di parlemen, di jabatan- jabatan walikota, bupati, gubernur, dan sebagainya.
Seperti Sigid Purnomo Said ini. Dia adalah Wakil Walikota Palu. Memang belum nomor satu di kota kecil itu. Cukuplah nomor dua. Tapi kekuasaan adalah kekuasaan, bukan?

Dan tampaknya dia menikmati kekuasaannya. Mulai saat ini, sebutan ‘dia’ harus diganti ‘beliau.’ Dan begitu menjabat, dia segera tahu kenikmatan berkuasa itu jauh lebih besar daripada uang!

Dia memulai hari pertamanya dengan memarahi pegawai-pegawainya hanya karena tertawa saat upacara. Uppssss … hmmm mereka sebenarnya pegawai negara. Tapi tetap, dia yang berkuasa. Kekuasaan itu sensitif, Sodara-sodara! Berani menertawakan Soeharto di depan hidungnya? Di dor langsung kepalamu! Oleh Sigid, mereka cukup dimarahin saja.

“Apa motif Saudara-saudara tertawa terbahak-bahak. Saya malu karena ada yang tertawa terbahak-bahak saat saya masuk. Next, saya tidak mau ini terulang lagi. Polisi Pamong Praja harus mengecek yang tertawa itu. Jelas? Jelas? Jelas?”

“Attitude harus ada, bagaimana membawa diri dengan baik dan benar. Anda semua memakai baju Korpri. Percuma sumpah Korpri tadi dibacakan kalau begini attitude pegawai!” Ceramah yang cukup bagus bukan?

Dan, saya anjurken Sodara juga tidak ikut tertawa. Lihatlah betapa berwibawanya Bapak Wakil Walikota kita ini. Dia tidak meninggalkan keartisannya. Dia memakai jas dan dipadu dengan jeans dan ban pinggang yang sangat modis.

Lihatlah berbagai lencana yang dia pakai. Ada lencana Praja Wibawa untuk Satpol PP di sana. Bukankah secara jabatan dia adalah wakil komandan Satpol PP? Ada wing marinir (yang ini saya tidak tahu dia dapat darimana). Ada Pelopor Lantas (aha! Mudah-mudahan dia tidak punya kekuasaan menilang!).

Yang paling saya suka adalah tongkat komando. Ada sedikit cita rasa Bung Karno di sini. Namun, ketika Pak Wakil Walikota ini menggenggamnya, dia lebih tampak seperti Moeldoko atau Ryamizard ketimbang Bung Karno!

Sodara, politik itu tidak mesti gontok-gontokan. Dia juga bisa menghibur. Terima kasih Pak Wawalkot Palu! You rock!

Tulisannya itu lalu mendapat 1,3 ribuan like dari akun lainnya, lalu dishare sekitar lebih 400 kali.

He…he…lha itu kalau di desaku sini ini adalah ciri pasien sakit jiwa. (golongan Mental Development, OCD, Retardation, Bipolar Disorder) Seriously para “consumer” ORMDD (ngga boleh disebut pasien) itu suka sekali bawa kunci dengan 100 gantungannya, backpack dengan segala macam lencana button yang menempel,
kopernya penuh dengan sticker-sticker…..ini bagian dari sympton mental problemnya,” ” kata Niesdri Welsh.

Raisa Kamila menulis, “itu tongkat lebih mirip tongkat mayoret marching band. parade politik yang ga habis-habis…”

Perilaku pejabat di ruang publik di Indonesia begitu sering menjengkelkan, tetapi juga menghibur. Ijin share ya, Bli Made Supriatma,” komentar Jacky Manuputty.

 

(Suryani Musi)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *