Mutiara Jumat: Uwais Al-Qarni; Penghuni Langit Domisili Bumi

Ilustrasi | Int

Ilustrasi | Int

Oleh: Arum Spink

Di pintu pesawat, sebelum meninggalkan, saya bertanya kepada pramugari, ” kita di ketinggian berapa kaki tadi ?” Ia menjawab, ” 35 ribu feet pak”

Jawaban ini saya butuhkan sebagai pelengkap essai ini. Sebenarnya, tekad saya sudah bulat bahwa catatan ini harus selesai di atas pesawat. Kenapa? Karena temanya berkait soal langit. Tempat pesawat melintasi ruang. Meski saya masih ragu apakah itu yang di maksud langit ?

Tapi saya hanya bisa berencana. Cuaca yang tidak bersahabat mengaburkan konsentrasi. Pokoknya buyar. Yang ada di fikiran agar secepatnya landing dan selamat. Jari jemari akhirnya kaku, dingin, tak bisa menari indah di atas tuts ponsel pintarku.

Ini tentang penghuni langit. Tapi berdomisili di bumi. Berjenis manusia. Rasulullah yang menyebutnya demikian. Disebut makhluk langit karena keistimewaannya. Bukan karena garis keturunannya. Apalagi karena jabatannya. Disematkan karena kesalehannya. Lebih terang lagi karena Ibunya, ya karena kebaktiannya ke ibunya. Dialah Uwais Al Qarni.

Kisahnya telah lama tersimpan di fileku. Dikirim oleh seorang adik di media sosial. Membacanya, saya terenyuh. Saya meneruskan sesuai amanah penukil di akhir kisah, meski namax tak tertulis. Di warkop Rumbu, Tala’ Salapang catatan ini saya tuntaskan.

Pemuda ini tinggal di Yaman. Berpenyakit sopak, tubuhnya belang-belang. Walaupun cacat, ia adalah pemuda yang soleh dan sangat berbakti kepada Ibunya. Ibunya adalah seorang wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan Ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.

“Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji,” pinta Ibunya. Uwais tercenung, perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan.

Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seeokar anak lembu, Kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkinkan pergi Haji naik lembu. Olala, ternyata Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi beliau bolak balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. “Uwais gila.. Uwais gila…” kata orang-orang. Yah, kelakuan Uwais memang sungguh aneh.

Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.

Setelah 8 bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kg, begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar. Ia menjadi kuat mengangkat barang. Tahulah sekarang orang-orang apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari. Ternyata ia latihan untuk menggendong Ibunya.

Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *