Ingat Dukun Cilik Ponari? Begini Nasibnya Sekarang

IMG_20160122_161044-640x423

Dukun Ponari, dulu ketika masih ‘mengobati’ orang sakit melalui batu yang dia miliki | Int

Jombang, LiputanLIMA.com – Siapa yang tak mengenal Ponari? Nama dukun cilik asal Dusun Kedungsari, Desa Balungsari, Kecamatan Megaluh, Jombang, Jawa Timur, dulu begitu fenomenal di negeri ini. Berawal dari main mandi hujan Menurut Ponari, batu ajaib itu ditunggu dua makhluk gaib, laki-laki dan perempuan bernama Rono dan Rani. Dua makhluk gaib itulah yang selama ini  memberikan amanat kepada Ponari untuk menolong orang sakit melalui batu. Bocah kelas IV SD ini pernah menghebohkan Indonesia pada 2009 lalu.

Setelah menjadi terkenal dan banyak didatangi pasien, Ponari menjadi kaya mendadak. Rumahnya yang dulu berlantai tanah “disulap” menjadi rumah besar berlantai keramik. Namun, kini seiring berjalannya waktu, pamor batu ajaib Ponari kian meredup.

“Sekarang tak menentu. Kadang ada satu orang, kadang sepi pasien,” ujar nenek Ponari, Mbok Legi.

Menurut Mbok Legi, setiap tamu yang datang, meski tak pernah diminta dan dipatok tarif, rata-rata memberikan uang Rp 20.000.

Sejak pasien mulai sepi, kini Ponari lebih fokus sekolah. Ponari meneruskan pendidikan yang sempat tertunda tiga tahun lamanya. Kesibukan Ponari menjadi dukun cilik membuatnya tak lulus ujian nasional saat kelas VI SD.

Setelah secara ekonomi keluarganya naik drastis dari hasil pengobatan Ponari, dukun cilik itu justru enggan ke sekolah hingga akhirnya tidak mengikuti ujian nasional beberapa waktu lalu.

“Tahun kemarin ikut ujian di program paket A, alhamdulillah lulus. Sekarang melanjutkan lagi ke sekolah tsanawiyah (sekolah Islam setingkat SMP). Baru kelas I,” tuturnya beberapa waktu lalu.

Saat ditanya mengenai materi yang didapatnya dari hasil pengobatan Ponari, keluarga ini mengaku saat itu sempat terkumpul uang Rp 1 miliar lebih dari pasien yang datang. Dengan uang sebanyak itu, dia mampu membangun rumah yang sangat layak, membeli 2 bidang sawah seluas 2 hektar, sepeda motor, dan perabotan rumah tangga.

Namun, uang yang jumlahnya fantastis bagi orang kampung itu kini telah habis. Kondisi ekonomi keluarganya pun kembali seperti semula. Ibu dua anak ini mengeluhkan biaya sekolah Ponari yang tergolong mahal. Padahal biaya ujian akhir semester itu hanya Rp 250.000. Bahkan, untuk melahirkan putra ke duanya ia mengalami kesulitan keuangan, dari berbagai sumber (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *