Aneh, Dua Bocah Ini Lumpuh Ketika Malam Tiba

012916000_1462855026-Pakistans-Solar-Kids

Adalah Abdul Rasheed (9) dan Shoaib Ahmed (13) adalah Solar Kids | Int

Pakistan, LiputanLIMA.com – Adalah Abdul Rasheed (9) dan Shoaib Ahmed (13), bocah yang tidak memiliki kekuatan tubuh seperti teman sebaya lainnya ketika malam tiba.

Saat matahari tenggelam di ufuk barat, tubuh mereka lumpuh dan layu, tak bisa bergerak, tidak mampu berkata-kata. Energi mereka seakan surut seiring redupnya cahaya mentari.

Karena itu juga, Shoaib dan Rasheed dijuluki ‘solar kids’. Kondisi yang sama juga menimpa seorang bocah lain, Ilyas yang baru berusia 1 tahun.

Meski dua bersaudara itu tertawa ceria, bergerak lincah, dan terus berceloteh soal apa saja. Namun, itu hanya terjadi mulai pukul 04.00, sepanjang siang, hingga sore. Bahkan, saat tubuh mereka bertenaga, kedua bocah membantu sang ayah merawat ternak-ternak mereka.

Mohammad Hashim, ayah para pasien tersebut, menyatakan bahwa kemungkinan anak-anaknya mendapatkan energi matahari.

Namun, para dokter menepis gagasan tersebut. Apalagi, anak-anak tersebut masih bisa bergerak pada siang hari meski berada di ruangan yang gelap ketika hujan badai.

Hashim menambahkan, anak-anaknya sadar akan kondisi mereka. Rasheed dan Shoaib pun berupaya keras melatih tubuh dan otak untuk menyelesaikan semua pekerjaan sebelum matahari tenggelam.

Namun, kekhawatiran dirasakan Hashim. Ia mengatakan, waktu aktif putra-putranya seakan berkurang. “Pernah suatu ketika, mereka kehabisan tenaga pada siang hari,” kata dia.

001861400_1462855231-Pakistans-Solar-Kidss

Begini Kondisi Adalah Abdul Rasheed (9) dan Shoaib Ahmed (13), ketika malam tiba. Keduanya tak berdaya sama sekali | Int

Hashim menambahkan, tiga anaknya yang lain terlahir normal. Ia juga mengatakan, kampungnya bebas dari penyakit menular, dan mereka juga menggunakan fasilitas modern seperti listrik, telepon, dan gas.

Penduduk desa hidup sehat, menjalani kehidupan layaknya penduduk di tempat-tempat lain. “Desa kami tidak tertinggal,” kata Hashim

Rasheed dan Shoaib sangat tekun belajar dan mengidolakan guru mereka, Maulvi Sahab.

Rasheed bercita-cita menjadi pengajar sekaligus hafidz  atau penghapal Alquran. Sementara, Shoaib ingin mendalami ilmu agama.

Dikutip dari Kashmirlife.net, Selasa (10/5/2016), Dr Javed Akram, menyatakan penyakit yang dialami oleh bocah-bocah tersebut merupakan kasus pertama di dunia.

Akram menyatakan, dia tidak pernah melihat kondisi seperti itu sebelumnya. Bersama dengan timnya yang terdiri dari 27 ahli medis Pakistan dan 13 orang dokter internasional, mereka bekerjasama untuk memecahkan misteri di balik kondisi bocah-bocah tersebut.

Langkah pertama yang harus mereka ambil adalah membuat diagnosis yang tepat. Pims telah mengirimkan sampel darah dan hasil tes kepada 13 lembaga yang jadi kolega, termasuk Mayo Clinik dan John Hopkins Medical Institute di AS, dan Guys Hospital di London.

Sementara itu, anggota tim lainnya sibuk mengumpulkan sampel lingkungan dari tanah dan air di Desa Mian Kundi.

Diagnosis awal menyebut, ketiga bocah itu menderita penyakit bawaan yang disebut Masthenia Syndrome. Itu adalah penyakit langka. Sejauh ini baru 600 kasus yang dilaporkan dari seluruh dunia.

Hashim sangat bersyukur mendapat pertolongan untuk menyembuhkan anaknya.

“Kami beruntung penyakit mereka belum memburuk. Aku tidak tega melihat mereka memiliki waktu yang sangat terbatas,” kata ayah enam anak itu (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *