Ini Persembahan Terakhir Akademisi UIN Alauddin untuk Almarhum Prof Ali Parman

Prof Ali Parman | Int

Prof Ali Parman | Int

Makassar, LiputanLIMA.com – Berita duka menyelimuti UIN Alauddin Makassar. Prof Ali Parman, guru besar sekaligus Direktur Pasca Sarjana UIN Alauddin meninggal dunia dini hari tadi, Minggu (1/5/2016).

Tidak hanya keluarga yang begitu kehilangan sosok tersebut. Namun segenap civitas akademika UIN Alauddin punya perasaan serupa.

Hal itu tergambar dari sebuah tulisan singkat salah satu pejabat kampus UIN Alauddin. Tulisan tersebut berisi sebuah puisi. Adalah Quraisy Mathar, kepala pusat Perpustakaan UIN Alauddin yang menuliskan puisi untuk mantan Dekan Fakultas Syariah dan Hukum tersebut.

Saat sesi peluncuran buku “SAJAK” karangan Prof. Ahmad M. Sewang, duduk di samping saya seorang bertubuh langsing yang berbisik “bisakah Abamu atau kamu membuatkan puisi buat saya?”.

Saya hanya menjawab singkat “siap Prof”. Lalu berita duka itupun datang pagi ini, orang bertubuh langsing itu berpulang ke Rahmatullah setelah berjuang melawan sakit, sebagai bagian dari jihad di akhir hidupnya.

Prof. Ali Parman menghembuskan nafas terakhirnya menjelang subuh tadi. Sebagai penghormatan terakhir, kugores puisi yang dulu dimintanya.

ALI PARMAN

Ali itu kemuliaan
Ali itu termuliakan
Ali itu dimuliakan
Ali itu mulia

Parman itu tak jelas artinya
Par itu lebih baik
Man itu manusia
Parman itu manusia yang lebih baik

Ali Parman manusia yang baik dan mulia
Marahnya tak pernah terasa
Senyumnya justru sangat teraba
Menyatu dalam wajah keguruannya

Kini seluruh selang infus itu telah dilepas
Tuntas sudah pergumulan hidupnya
Kini terbaring tenang di ruang lapang
Menanti Tuhan membukakan pintuNya

Kita kehilangan seorang ahli hitung
Dalam senyuman rumus falaqnya
Sesekali serius mengurus hizab-ruqyatnya
Tinggal kenangan kini tentangnya.

Samata, 01/05/2016

Selamat beristirahat Guruku Prof. Ali Parman. Puisi untukmu sudah kubuat sesuai permintaanmu. Kuyakin baris-barisnya masih dapat kau baca dari langit tempat ruhmu kini terbebas dari seluruh keterjebakan hidup di bumi. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. DariNya kita berasal, dan kepadaNya pula kita pasti kembali.

(Asrul)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *