Peringati Hari Pers Dunia, Jurnalis Makassar Minta Tiga Hal

20160503124326

Aksi meminta kasus kekerasan dituntaskan di Sulawesi Selatan (Sulsel), digelar dibawa jembatan layang Makassar, Selasa 3/5/2016 | Saifullah

Makassar, LiputanaLIMA.com – Puluhan wartawan dari berbagai media cetak dan elektronik di kota Makassar aksi menuntut kebebasan pers di bawah jembatan Fly Over, Makassar, Selasa (3/5/2016).

Aksi yang merupakan salah satu rangkaian untuk memperingati hari pers sedunia yang jatuh setiap tanggal 3 Mei dan sebagai  bentuk protes terhadap pemerintah dan kepada perusahaan untuk memberikan upah yang layak kepada jurnalis.

Koordinator lapangan, Aan Pranata dalam orasinya mengatakan kebebasan pers dan keselamatan para jurnalis untuk menyampaikan informasi belum sepenuhnya diberikan, menurutnya masih ada segelintir orang yang belum terbuka dan bahkan menutup akses informasi.

“Mengeluarkan pendapat merupakan hak semua pihak dan juga dijunjung tinggi. Jangan berhenti melawan dan jangan berhenti memberi informasi kepada publik, karena itu hak publik,” ungkap Aan Pranata.

Baginya, pekerjaan jurnalis dilindungi oleh undang-undang pers, “maka pekerjaan kita harus beretika sesuai pada etika dalam kode etik wartawan,” lanjutnya di depan anggota aksi yang dikawal oleh beberapa orang dari pihak kepolisian.

Aksi tersebut dikoordinasi langsung oleh ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) cabang Makassar, Gunawan Mashar dalam menyuarakan kebebasan pers mengatakan bahwa momentum ini perlu segenap pihak kembali memperhatikan kebebasan ekspresi bagi para pewarta.

Selain menggelar orasi secara bergantian dari media yang berbeda, aksi memperingati Hari Kebebasan pers Dunia atau World Press Freedom Day ini, beberapa dari mahasiswa juga ikut andil.

Di akhir sebelum bubar, Aan membacakan pernyataan sikap, yakni, mendesak pemerintah untuk menghormati komitmennya terhadap kemerdekaan pers, dengan memberikan akses seluas mungkin kepada jurnalis untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan kepentingan publik.

Meminta kepolisian bersikap profesional dalam menjamin kemerdekaan pers, dengan tidak bersikap represif terhadap jurnalis yang menjalankan tugasnya untuk memperoleh berita.

Mendesak Kapolda Sulawesi Selatan (Sulsel) untuk memproses bawahannya yang melakukan kekerasan terhadap jurnalis saat melakukan tugas.

(Saifullah/Suryani Musi)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *