Pramono Anung Nilai Korupsi Indonesia Sudah Overload

Karikatur-130111-Korupsi-vs-Orasi

Karikatur Korupsi vs orasi | Int

Jakarta, LiputanLIMA.com – Kasus korupsi tidak ada matinya. Olehnya itu, Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung menilai, secara aturan berkenaan dengan korupsi, Indonesia saat ini sudah overload.

“Karena itu tidak usah ditambah lagi, tidak perlu dikurangi lagi. Yang belum muncul adalah, menurut Seskab, bagaimana persoalan korupsi itu menjadi persoalan yang ditabukan dalam masyarakat secara kultur, budaya, adat, dan agama,” ujarnya  saat menjadi pembicara dalam seminar dan lokakarya yang diselenggarakan oleh Indonesia Corruption Watch (ICW), di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Selasa (3/5/2016).

Dalam berita rilisnya, ia menekankan bahwa pada peraturan atau instrumen untuk penanganan tindak pidana korupsi di Indonesia sudah sangat baik. Hal ini dibuktikan dengan penangkapan pejabat publik yang di negara lain tidak tersentuh, seperti Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) bahkan Menteri Agama pun bisa ditangkap.

“Ini menunjukkan bahwa sebenarnya instrumen yang ada sudah sangat kuat sekali, dan kinerja pemberantasan korupsi sudah cukup baik,” terang Pramono.

Namun, dalam hal pembudayaan di masyarakat, Seskab Pramono Anung menilai sama sekali belum optimal. Ia menunjuk contoh Pemilu 2014, yang memilih 5 (lima) anggota DPR yang  sebelumnya pernah tersangkut korupsi. “Ini kan tandanya masyarakat acuh saja dengan mereka yang pernah tersangkut korupsi.

Dan itu terjadi karena si calon punya uang,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menyoroti perilaku beberapa pelaku korupsi saat ditangkap oleh KPK atau Kejaksaan Agung. “Coba kita lihat, hari pertama ditangkap wajahnya sedih dan sendu, lalu kita lihat lagi 2-3 hari berikutnya, wajahnya sudah tenang, sudah bisa tersenyum dan melambaikan tangan ke kamera. Ini kan tandanya dia tidak merasa malu,” sebut Pramono.

Untuk itu, Pramono Anung menilai perlu pendidikan politik, bahwa korupsi inilah yang menyebabkan bangsa Indonesia tidak bisa menjadi bangsa yang besar. Ia mengibaratkan korupsi itu seperti narkoba. Kalau ketahuan itu sadar, malu, depresi tetapi begitu terjangkit kembali dia akan mengulangi.

(Suryani Musi)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *