Sifat Dosen yang Terbunuh di Mata Mahasiswanya

nurain-lubis1-620x330

Nur Ain Lubis, dosen Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), oleh mahasiswanya diduga dibunuh setelah cekcok soal skripsi dan nilai akademik dengan Roymando Sah Siregar | Int

Sumut, LiputanLIMA.com – Kasus Nur Ain Lubis, dosen Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), oleh mahasiswanya diduga dibunuh setelah cekcok soal skripsi dan nilai akademik dengan Roymando Sah Siregar.

Di mana mahasiswanya, perempuan yang akrab disapa Bu Ain itu adalah sosok dosen yang disegani di UMSU. Dia dikenal rendah hati, tetapi juga tegas kepada para mahasiswanya.

Sosok Ain juga terbilang “ditakuti” oleh mahasiswi Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMSU. Pasalnya, saat Ain memberikan kuliah, para mahasiswi yang biasanya menggunakan celana jins harus membawa rok cadangan.

Sebelum masuk ke dalam kelas, para mahasiswi mampir ke kamar mandi untuk mengganti celana jins dengan rok panjang agar diizinkan masuk ke kelas oleh Ain.

Hal tersebut disampaikan oleh M Azhari Tanjung yang kini berprofesi sebagai jurnalis merupakan mantan mahasiswa Nur Ain di UMSU. Baginya, Nur Ain sangat berkesan. Selain karena pernah diajar dalam mata kuliah Pengantar Pendidikan, Belajar Pembelajaran dan Profesi Kependidikan, dosen itu yang menandatangani ijazahnya saat lulus.

“Dia (Bu Ain) memang kerap marah kepada mahasiswinya bila menggunakan celana jins. Bu Ain beralasan, bila nanti menjadi guru, para mahasiswinya tersebut tidak bisa mengajar dengan menggunakan celana jins,” tutur Azhari.

“Kalau mau menjadi seorang guru, pertama, biasakanlah penampilan seorang guru, dan menjadi guru itu tidaklah mudah,” tambah Azhari menirukan ucapan Ain pada masa itu.

Dalam mengajar, Ain lebih sering menggunakan teknik diskusi setelah menjelaskan mata kuliahnya. Bahkan, dia tak segan-segan menghukum mahasiswanya bila berbuat salah di kelas.

Menurut Azhari pula, para mahasiswa juga agak gentar ketika berhadapan dengan Ain jika mereka hendak mendiskusikan mata kuliahnya, tetapi tidak menguasai materinya.

“Saya sendiri saat kuliah beberapa waktu lalu memang hampir setiap hari bertemu dengan Bu Ain. Terlebih lagi, saat itu saya juga menjadi relator (ketua kelas). Bu Ain sering meminta saya untuk memfotokopi bahan-bahan mata kuliahnya sebelum masuk kelas. Selain itu, dalam soal menandatangani berkas, Bu Ain termasuk orang yang gampang untuk ditemui. Ia selalu membuka pintunya lebar-lebar kepada mahasiswanya untuk┬ámenandatangani berkas untuk meja hijau dan segala macam administrasi,” kata Azhari (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *