Danny Nilai, Kejahatan Bisa Dideteksi Sejak Dini

DANNY-POMANTO

Danny Pomanto | Int

Makassar, LiputanLIMA.com – Wali Kota Makassar menyatakan keprihatinan dan duka yang mendalam atas kasus yang menimpa Muhammad Ali (5) tahun yang meninggal di tangan ayah kandungnya sendiri, JM (32) tahun yang diduga mengalami gangguan jiwa. Hal itu disampaikan Danny usai mengunjungi JM yang ditahan di Polsek Tamalanrea, Jumat, (6/05/2016).

“Sangat prihatin dengan kejadian ini,” ungkap Danny.

Menurutnya, kasus yang menimpa Muhammad Ali dapat dicegah dengan deteksi dini yang melibatkan seluruh elemen masyarakat mulai dari tingkatan RT, RW, dan kelurahan.

“Inilah gunanya kita memperkuat segmen – segmen kecil di masyarakat, di lorong, di kampung – kampung agar masyarakat dengan sendirinya saling mengawasi atau memberi pengawasan apabila ada warganya yang memiliki riwayat atau sejarah yang mengkhawatirkan,” papar Danny.

Pengawasan dari masyarakat lanjutnya dapat membentuk kesiagaan sosial tanpa harus menunggu ada kejadian seperti yang menimpa Muhammad Ali. “Nah, ini adalah pelajaran yang sangat berarti bagi kita semua. RT, RW, dan lurah harus punya data warganya, apalagi yang menyangkut riwayat kejiwaan,” lanjutnya.

Danny mengharapkan sistem itu dapat berjalan yang dapat berfungsi sebagai langkah preventif dan deteksi dini bagi anak – anak yang rentan menjadi korban kekerasan dalam keluarga (rumah tangga) apalagi sampai menimbulkan korban jiwa. Ia menegaskan menjadi tugas pemerintah kota untuk mencegah terjadinya hal – hal seperti itu melalui berbagai program dan kebijakan.

Kebijakan Danny memulai pembangunan di lorong – lorong ditujukan untuk menekan angka kekerasan, kriminalitas, kemiskinan, dan masalah sosial lainnya. Menurutnya problem sosial terbesar terjadi di lorong – lorong, “Stres sosial ada di situ. Bagaimana memperhatikan lorong, mengutamakan lorong, dan memperbanyak kegiatan positif di lorong,” bebernya.

Selain mendorong berbagai program di lorong – lorong, pemerintah kota Makassar juga memiliki program Pendampingan 1.000 Hari Pertama Kehidupan bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin yang memberikan pendidikan dan pendampingan bagi ibu – ibu di awal masa kehamilan hingga melahirkan bahkan sampai si anak berusia dua tahun.

Selama ini, lanjut Danny, kasus yang menimpa anak – anak yang menjadi korban kekerasan dalam keluarga bahkan berujung pada kematian dilatarbelakangi dengan faktor pemicu seperti narkoba, minuman keras, dan senjata tajam. Olehnya itu, Danny kembali menghimbau masyarakat untuk bersama – sama pemerintah mendukung peran kepolisian dalam penegakan hukum, dan pemberantasan narkoba termasuk peran BNK dalam penanggulangan narkoba.

“Musuh yang paling besar bagi kita adalah narkoba, minuman keras, dan senjata tajam,” tegas Danny.

Sementara itu, Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait menyerahkan proses hukum JM (32) kepada pihak kepolisian, dan meminta tenaga medis untuk melakukan pemeriksaan terkait kondisi kejiwaan JM, “Kalau mendengar sudah dua kali masuk rumah sakit (jiwa), perlu ada proses pemeriksaan, dan kalau memang sakit (jiwa) harus dinyatakan oleh tim medis,” tegas Arist. Jika didasarkan pada pasal 340 KUHP, JM bisa saja dikenai ancaman hukuman seumur hidup bahkan sampai hukuman mati jika terbukti memenuhi unsur pembunuhan berencana, “Karena usianya di atas 18 tahun itu bisa diterapkan kalau unsurnya terpenuhi,” tekannya.

Jika pun nantinya oleh Tim dokter, JM dinyatakan mengalami gangguan jiwa, hal itu bisa menjadi pertimbangan bagi hakim dalam menjatuhkan vonis pengadilan, “Tentu saya tidak ingin mendahului hakim. Hakim tentu akan memilah – milah apakah ini akan dihukum ataukah ini akan diterapi dan sebagainya,” pungkas Arist.

Ahmad | Suryani Musi

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *