PBB: Satu Nyawa Melayang dalam 25 Menit di Aleppo

3F93BA16-6F91-4535-9C6C-7903335DDCC9_w640_r1_s

Kondisi masyarakat di Aleppo, Suriah yang berada dalam bayangan peperangan setiap waktu | Int

Suriah, LiputanLIMA.com – Perang saudara di Suriah yang dalam beberapa hari ini terfokus di Aleppo, kota besar kedua setelah Damaskus, semakin buruk karena lebih banyak menyasar warga sipil.

Serangan itu berlangsung di tengah-tengah meningkatnya kekerasan di Aleppo, dengan hampir 200 orang tewas pekan lalu, dalam bentrokan antara pasukan pemerintah yang mendukung Presiden Bashar al-Assad yang terpojok dan kelompok-kelompok pemberontak yang berupaya menggulingkan rezimnya. Pemberontak telah membombardir kawasan-kawasan permukiman yang dikuasai pemerintah dengan roket dan tembakan artileri, sementara jet-jet tempur Suriah melancarkan serangan udara.

Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan, satu nyawa melayang dalam setiap 25 menit dalam tiga hari ini. Krisis Suriah tak memperlihatkan tanda-tanda akan segera berakhir. Keadaan di Aleppo semakin memburuk setelah perundingan damai Suriah di Geneva, Swiss, menemui jalan buntu.

Menurut Utusan Khusus PBB untuk Perdamaian Suriah, Staffan de Mistura, dalam 48 jam terakhir, satu nyawa melayang setiap 25 menit dan satu orang luka-luka setiap 13 menit.

Konflik yang tak kunjung usai di Suriah telah menewaskan lebih dari 270 ribu orang dan memaksa jutaan rakyat meninggalkan rumahnya.

Mayor Jamil Saleh, salah satu komandan Tentara Pembebasan Suriah (FSA), mengatakan, pasukan rezim Damaskus sedang mempersiapkan penambahan personel, persenjataan, dan amunisi untuk menghadapi perang terbuka di Aleppo.

Saleh mengklaim, pihaknya menjawab manuver Assad dengan mengirimkan pasukan ke Aleppo. Ia menyebut serangan udara dan artileri oleh pasukan pemerintah terhadap Aleppo sebagai persiapan menjelang operasi militer berskala besar.

Eskalasi konflik di Suriah mendorong Mistura untuk mendesak Amerika Serikat dan Rusia agar mengusahakan insiatif damai di level tertinggi. Ia menuntut pasukan pemerintah menghentikan operasi militer (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *