Ada Ritual Patorani di Festival Pesona Pulau Sanrobengi 2016

Ritual patorangi | Dok

Ritual patorangi | Dok

Takalar, LiputanLIMA.com – Pelaksanaan Festival Pesona Pulau Sanrobengi 2016 yang akan dilaksanakan tanggal 27 hingga 29 Mei mendatang akan diisi beberapa rangkaian kegiatan seperti lomba dan pertujukan.

Salah satu item kegiatan menarik yakni ritual keselamatan pelaut Kabupaten Takalar (Patorani) yang akan digelar pada hari kedua di Pulau Sanrobengi, Desa Boddia, Kecamatan Galesong.

Ritual Patorani, merupakan cerminan keyakinan yang telah terwariskan secara turun – temurun bagi para pelaut Takalar yang akan mencari telur ikan terbang.

Patorani diambil dari kata Tobarani yang artinya pemberani. Sejarahnya, para pemberani (Tubaraniyya) dari Kerajaan Galesong yang merupakan Laskar pemberani utusan Kerajaan Galesong  untuk bertempur melawan Belanda, sebagai bentuk bantuan bagi Kerajaan Sultan Terunojoyo, di Daerah Tuban, Pulau Jawa Timur.

Tubaraniyya ini diyakini yang pertama kali menyaksikan kerumunan ikan bersayap dan terbang. Mereka pun mencari cara agar dapat menangkap ikan – ikan bersayap dan terbang tersebut dalam jumlaha banyak.

Saat ini, patorani masih bertahan. Bahkan jumlahnya semakin besar yang rela berlayar demi memperoleh telur ikan
terbang. Namun tetap mempergunakan cara-cara dan penangkapan serta peralatan yang berkearifan lokal sebagai warisan leluhur mereka.

Tak hanya alat tangkap, Patorani tetap mempertahankan ritual leluhurnya sebelum berangkat ke laut lepas. Ritual Patorani, merupakan cerminan keyakinan yang telah terwariskan turun – temurun yang dilakukan beberapa tahapan yang akan ditampilkan pada pelaksanaan Festival Pesona Pulau Sanrobengi 2016

Pertama, Accini Allo (Menentukan Hari/ Waktu yang baik). Disisni diadakan musyawarah dengan para Tokoh Adat dan para Patorani, dalam rangka menentukan waktu yang tepat sebelum melaut. Pada prosesi ini para Nakhoda Kapal (Punggawa), bermusyawarah dengan para Kru Kapal (Sawi) yang dituntun oleh Sesepuh Adat (Pinati).

Kedua, Annisi’ (Mempersiapkan Alat Tangkap). Para Patorani Galesong, selanjutnya menarik kapal kelaut (Abbeso’ Biseang) untuk mempersiapkan segala peralatan penangkap ikan terbang selama sepekan lamanya.

Ketiga, Apparada (Pengecatan Kapal). Mengecat kapal agar terlihat lebih terang dan lebih bersih, yang merupakan bagianritual berikutnya. Ritual pengecatan kapal disebut dengan kalimat Apparada. Prosesi Apparada, diikuti dengan pengambilan dan menyiapkan daun kelapa (Angngalle Leko’ Kaluku) lalu daun – daun kelapa tersebut akan digunakan sebagai pembungkus ikan – ikan terbang (Juku’ Tuing – Tuing) yang telah didapatkan.

Keempat, Appanai’ Pakkajang (Mengisi kapal dengan perbekalan). Disni para patorani dibantu dengan para keluarga atau kerabat menaikkan perbekalan untuk mencari ikan terbang

Kelima, Appanaung Rije’ne (Melarung Sesajen). Ritual inti dari prosesi secara keseluruhan adat Patorani yaitu melarung sesajen (Appanaung Rije’ne) yang diikuti nyanyian lagu daerah Makassar, sembari mendorong kapal – kapal nelayan para Patorani, menuju ketengah laut lepas.

Terakhir, Appassili (Berdo’a Bersama). Setelah prosesi melarung sesajen dilaksanakan telah usai, maka keseluruhan ritual ini selanjutnya dilepas (A’lappasa’) atau pelepasan para nelayan Patorani, oleh keluarga dan kerabat dengan lambaian tangan yang diiringi dengan do’a, semangat dan harapan yang diperuntukkan bagi para nelayan Patorani, agar memperoleh  keberkahan dan keselamatan.

(Rilis)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *