Abdullah Hehamahua Sedih Tanggapi Kasus Marwah Daud

146467_620

Tanggapan Abdullah Hehamahua terhadap Marwah Daud Ibrahim:

Maaf kawan-kawan alumni HMI cab makassar. Perkenankan saya menyampaikan kesedihan saya berkaitan dgn kasus adinda marwah daud. Kesedihan pertama, marwah adalah Wakil sekjen PB HMI yg pertama yg perempuan. Ketika saya merekrut dia sbg salah seorang Wakil sekjen saya, bukan karena perempuan, tapi karena aktivis kampus yg masih muda, enerjik dan cerdas.

Pertama kali saya jumpa ketika sbg tahanan kodim makassar, saya diijinkan keluar main badminton di dalam komplek kodim juga. Disitu marwah sdg main badminton juga dgn kawannya. Ketika saya menikah, dia jadi protokol dlm acara walimah di masjid sunda kelapa, Jaksel.

Itulah sebab nya saya rekrut dia menjadi Wakil sekjen PB HMI dan beberapa tokoh kampus lainnya (UI, ITB, UNPAD, UGM, UNAIR, dan UNCEN) sbg strategi saya menarik keluar HMI dari pusaran politik praktis, khususnya dari para alumni yg aktif di golkar.

Ketika di PB HMI itulah marwah berkenalan dgn Habibi yg selanjutnya mengikuti program doktor di AS. Ketika kembali dengan gelar doktor, dia sempat nginap di rumah saya. Sayang, peristiwa 84 membuat saya putus komunikasi dgn nya selama 15 tahun. Ketika saya dipanggil pulang oleh kawan-kawan pasca lengsernya soeharto, saya melihat marwah semakin berkibar.

Sebagai orang yg mengorbitkan dia saya bertanggung jawab utk mengingatkan dia agar jangan tersesat jalan. Kepada alumni yg kenal dekat dgn nya saya pesan begini: kalau mau lari cepat, larilah di atas permukaan tanah, jangan di udara. Sebab, kalau lari di atas permukaan tanah, terjatuh, paling lutut yg lecet. Tapi kalau lari di udara, ketika jatuh, badan hancur habis. Ternyata marwah yakin atas kemampuan diri sendiri sehingga nasihat saya itu hilang ditelan bangun malam.

Tapi saya belum berhenti utk mengingatkan dia. Saya Minta anggota saya di KPKPN memanggil marwah utk memberi klarifikasi atas hartanya yg bermasalah. Saya berharap waktu itu dia akan berubah.

Klimaksnya ketika dia maju sbg cawapresnya gusdur pada pilpres 2004. Padahal dia tahu betul saya menolak perempuan sbg president/Wakil president. Saya berkesimpulan waktu itu, kami berbeda ideologi perjuangan. Saya lalu berhibur diri dgn mengenang masa-masa Indah ketika bersama dgn Pak Natsir di DII. 

Waktu itu ada kawan yg minta agar Pak Natsir menegur aktivis (alumni HMI dan PII) yg bertingkah aneh2. Kata Pak Natsir, mereka kan sudah dewasa apalagi bergelar doktor, bagaimana kita nasihati mereka? Kesedihan saya yg kedua, dlm penjelasannya di medsos (yg dimuat di grup ini), tidak ada penyesalan yg nasuha atas kesyirikan yg dilakukan nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *