Qasim Mathar Merespon Surat Marwah Daud, Begini Balasannya.

qosim-mathar

Makassar, LiputanLIMA.com – Kini beredar pemberitaan tentang surat terbuka Marwah Daud kepada publik yang berjudul “izinkan saya melanjutkan perjuangan ini”.

Marwah merupakan pengurus MUI pusat yang sekarang menjadi ketua yayasan padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Di tengah guncatan masalah yang menjerat sang guru di padepokat tersebut, nampaknya Marwah makin serius menangani persoalan ini, sebagaimana yang Ia tuliskan  dalam suratnya.

Surat itupun kemudian mendapat respon dari sahabat karibnya, Qasim Mathar. Kamis 06/10/2016.

Berikut isi surat respon Guru Besar ilmu filsafat UIN Alauddin itu;

DIK MARWAH, LANJUTKAN PERJALANANMU!
M. Qasim Mathar

Kalau benar itu adalah tulisanmu seutuhnya yang saya baca melalui media sosial yang terbaca juga oleh banyak pembaca media sosial, saya abangmu, Qasim Mathar, mengatakan: lanjutkan perjalananmu! Saya juga masih seperti dulu, saat engkau dan suamimu, Dik Ibrahim Taju, menyapaku dengan “Kak Qasim”. Tak banyak yang berubah, kecuali abang sudah berusia 69 tahun, kini. Karenanya, sudah begitu lama abang merasa tidak bertemu dengan adik berdua. Tiba-tiba pada hari-hari ini, adik berdua berada di pusat pemberitaan media.

Dik Marwah, saya sungguh memerhatikan, tulisanmu yang menyatakan bahwa yang engkau perjuangkan jauh lebih besar daripada Padepokan di mana engkau diamanahi sebagai Ketua Yayasan dan Tim Programnya; pun jauh lebih tinggi dan mulia daripada sekadar membela Guru Besar Padepokan, YM Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Abang tertarik, Dik Marwah. Karena itu, lanjutkan perjalananmu!

Abang mulai semakin tertarik, ketika engkau menyatakan bahwa engkau merasa “diperjalankan” dan “dipertemukan” oleh Allah SWT dengan orang “hebat” dan “berilmu” di banyak pulau Indonesia dan terutama di Pulau Jawa yang punya kemampuan setara Dimas Kanjeng… Tentu abang mengerti, jika Dik Marwah membaca banyak tentang sahabat yang belajar dari guru tasawuf dan sufi, lalu mereka menganggap fenomena Dimas Kanjeng adalah hal biasa saja. Namun, abang tidak mau mengatakan bahwa “tidak ada yang mustahil bila Allah SWT berkehendak”, seperti kata para sahabat itu. Sebab, bagi abang, Allah mustahil melakukan kejahatan.

Dik Marwah, saya tergoda untuk ikut di belakangmu, ketika engkau menulis bahwa pembelaanmu terhadap Dimas Kanjeng adalah demi “sebuah proses pencarian, penemuan dan atau peneguhan “Ideologi” untuk sebuah Peradaban Baru di Abad 21″. Kakiku mulai melangkah di belakangmu, saat dengan tangkas engkau berbicara tentang lumpuhnya Komunisme, runtuhnya tembok Berlin, bubarnya USSR, digugatnya Kapitalisme, keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Karenanya, lanjutkan perjalananmu,

Dik Marwah! Kakiku yang satu turut kuangkat pula melangkah di belakangmu, saat engkau seolah berkata: lihat itu Timur Tengah, tempat para Rasul dan Nabi lahir, hidup dan wafat, yang kisah mereka terukir di kitab suci Yahudi, Kristen, dan Islam, yang salah satu inti ajaran mereka adalah perdamaian; bukankah di sana kini menjadi arena perang saudara yang memilukan!

Dik Marwah, bagai sebuah jembatan yang ujungnya di depan belum tampak, engkau sudah jauh menempuh ke tengahnya, sedang abang baru dua langkah menginjak ujung jembatan di belakangmu. Abang semakin tertarik untuk mempercepat langkahku, mengikuti langkahmu yang melampau teori gravitasi, relativitas dan Fisika Quantum, yang kata adik, semua itu go “beyond” metaphysics (melampaui metafisika). Padahal, di pulau-pulau Nusantara begitu kaya dengan “Genius Lokal” (Kecerdasan Setempat).

Dik Marwah, abang melangkah lebih cepat lagi untuk bisa lebih dekat kepadamu. Tapi, jarak kita di jembatan ini tidak mudah diretas begitu saja. Abang tetap berjalan di belakangmu dan semakin ingin berlari mengejarmu, ketika di tengah jembatan yang belum tampak ujungnya di depan, engkau berkata lantang: saya makin yakin bahwa fajar terbitnya matahari “Nusantara Jaya 2045” sedang menyingsing! Islam Rahmatan lil alamin harus siap dan menyusun shaf!
Dik Marwah, abang juga melihat fajar itu. Ilmu pengetahuan tentang transdimensi. Nabi Ibrahim tidak terbakar api, Nabi Isa menghidupkan orang mati, Maryam yang suci, ibu Isa, hamil tanpa disentuh laki-laki, Nabi Muhammad dalam perjalanan Isra Mikrajnya bertemu dengan para seniornya, nabi-nabi terdahulu, di langit-langit tertentu,….salahkah kalau saya berpendapat bahwa semua kejadian itu adalah ilmu transdimensi Allah SWT yang menggoda manusia untuk belajar daripadanya? Karenanya, lanjutkan perjalananmu, Dik Marwah!

Dik Marwah, saya masih amat dekat pada ujung jembatan yang engkau sudah terlalu jauh meninggalkannya. Tapi, percayalah, abang tetap di belakang mengikutimu. Mungkin ujung jembatan di depan kita yang belum juga tampak, adalah sebuah dimensi baru yang sama sekali berbeda dengan dimensi yang sudah dan sedang dialami sekarang. Tapi, betapa pun kompleksnya dimensi baru di ujung jembatan, yang sedang kita berdua berjalan ke sana, ia mesti wajib dicerna oleh akal sehat manusia. Sebab, perkakas terpenting yang diberikan Allah SWT kepada manusia untuk memahami semesta, fenomenanya, dan semua dimensi, termasuk bertransdimensi, adalah akal. Bahkan, semua ideologi dan agama akan membawa mudarat bila tidak dibangun dengan akal sehat.
Karena itu, Dik Marwah, lanjutkan langkahmu menuju ujung jembatan yang masih belum tampak itu! Namun, jika kakimu terasa tersandung, jangan segan menoleh ke belakang. Saya, abangmu, Qasim, ada di belakang, siap menggenggam tanganmu untuk berjalan bersama melewati dimensi-dimensi baru yang indah, seperti dulu kita sama-sama menyanyikan lagu hymne HMI, setelah capek memperbincangkan NDP (Nilai-Nilai Dasar Perjuangan) HMI.
Kak Qasim.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *