JSI: Rendah, Pengguna Medsos di Pilkada Takalar

Pilkada Takalar | Dok

Pilkada Takalar | Dok

Makassar, LiputanLIMA.com-  Pasangan calon bupati dan wakil bupati Takalar yang ingin mendulang simpatik masyarakat lewat sosialisasi di media sosial (medsos) diingatkan untuk tidak berharap banyak menambah popularitas dan keterpilihannya.

Mengacu data survei  Jaringan Suara Indonesia (JSI), hanya 6,36% pemilih di Takalar yang membuka atau mengakses medsos  setiap harinya. Lainnya 1,82% membuka 3 sampai 4 hari dalam setiap pekan, 2,27% satu sampai dua hari setiap pekan, dan 3,41% yang jarang menggunakan.

“Dari data survei, memang terekam ada 84,77% responden yang tidak pernah menggunakan medsos di Takalar,” sebut Supervisor Pemenangan Lembaga Survei dan Konsultan Politik Jaringan Suara Indonesia (JSI) Arif Saleh, Sabtu (15/10).

Lalu jejaring sosial apa paling tinggi digunakan pemilih di Takalar? Arif menyebut, dari total pengguna medsos yang terekam di surveinya, jejaring facebook lebih banyak digunakan. Tercatat ada 83,61%. Kemudian Line 4,92%, dan lainnya 11,48%.

Berdasar hasil tersebut, Arif menyarankan kepada kandidat dan timnya untuk lebih kreatif menarik dukungan atau simpati pemilih lewat kemasan lain di luar medsos. Seperti memperbanyak pertemuan langsung dengan masyarakat, atau melalui pendekatan sosialisasi dari rumah ke rumah.

“Idealnya, kandidat dan timnya harus memperbanyak volume pertemuan dengan masyarakat secara langsung. Karena penyerapan informasi pemilih lewat medsos, itu sangat sedikit. Kondisi ini sangat berbeda di wilayah perkotaan yang pemilihnya banyak menggunakan medsos,” tambah alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar ini.

Sekadar diketahui, JSI yang di Pilkada 2015 sukses mendulang empat dari lima pasangan yang didampingi di Sulsel,belum lama ini melakukan survei di Takalar dengan melibatkan 440 responden yang tingkat kepercayaannya 95%, atau marjin error kurang lebih 4,8%.

Di survei yang menggunakan metodologi, multistage random sampling, juga mereka peta kekuatan kandidat yang bertarung di kabupaten tetangga Gowa itu.  Hanya saja, Arif memilih tidak menyebutkan tingkat elektabilitas masing-masing kandidat dengan alasan bukan untuk dipublish.

Meski demikian, peta kekuatan kandidat per hari ini masih memungkinkan terjadi perubahan saat pencoblosan nantinya. Apalagi, masa kampanye yang tergolong sangat panjang, memberi banyak ruang bagi kandidat dan timnya untuk bisa lebih meyakinkan pemilih lewat berbagai kemasan sosialisasi.

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *