Kisah Homo yang Masuk Islam dan Memilih Hidup Normal

homo

Illustrasi

New York, LiputanLIMA.com – Imam besar Masjid New York asal Indonesia, Shamsi Ali yakin bahwa orientasi seks homoseksual dapat kembali hidup normal. Ia berkisah tentang pria gay tinggi bertato yang kini menjadi muridnya.

Beberapa tahun lalu, Shamsi Ali mengaku ditelepon oleh seorang sopir limo di kota New York. Menurutnya, ada pelanggan mobil dia yang ingin belajar Islam.

Ia meminta untuk datang ke masjid. Orang tersebut kemudian datang. Kulitnya putih, berperawakan tinggi besar dan memiliki tato. Setelah duduk, dia kemudian menanyakan alasan orang tersebut mengapa ia lebih memilih masuk Islam dibanding dengan agama lain.

Dia mengatakan karena dia ingin jalan hidup yang menuntunnya dalam 24 jam 7 hari. Saat itu, ia masih beragam Budha. Walaupun lahir Katolik, lalu pindah Protestan, dan akhirnya masuk Budha. Bahkan ketika datang ke Shamsi, pria tersebut berpakaian biksu untuk n menghargainya sebagai Imam.

“Baru beberapa menit dia memotong saya dan bertanya, apakah benar saya bisa diterima sebagai Muslim?,” Shamsi, dikutip dari Islampos.com.

Syamsi menjawab bahwa semua manusia dirangkul oleh Islam. Semuanya memiliki peluang untuk menjadi sosok yang baik. Ia kemudian menjelaskan bagaimana Islam tersebut.

Ketika menjelaskan, tiba-tiba orang tersebut memotong pembicaraannya, “Are you sure I can be accepted in Islam?,” tanyanya pada Syamsi.

Syamsi mengaku terkejut. Ia kemudian menanyakan kenapa orang tersebut bertanya demikian.

Because I am a gay,” jawabnya jujur.

Pria kelahiran Sulawesi tersebut menanyakan alasan si Gay penyebab dia seperti itu. Apakah karena ada sejak ia kecil atau karena faktor lain.

Si Gay kemudian mengaku, dirinya mulai gay ketika menjadi event organizer dalam bidang fashion show. Pergaulannya di dunia model yang menjadikannya memiliki kecenderungan seperti itu.

Shamsi menerangkan bahwa menjadi muslim tidak sekadar pindah agama. Tapi mau melakukan perubahan. Orang itu pun dengan tegas menjawab, “Yes, I will.”

Menurut cerita Syamsi, dua bulan sosok tersebut memeluk Islam, ketika Ramadan ia juga mulai puasa. Setahun kemudian, kembali ia naik haji lalu ke Maroko untuk melamar calon istrinya.

“Dia rupanya diam-diam mencari jodoh lewat biro jodoh di internet. Alhamdulillah, teman kita ini sudah berkeluarga dan berbahagia,” papar direktur Muslim Jamaica Center ini.

Menurut Shamsi, perubahan akan selalu mungkin dilakukan. Apalagi itu adalah bagian dari preferensi gaya hidup.

“Saya memang kurang mengerti dengan mereka yang membela homo dan lesbi. Di satu sisi meninggikan kemampuan manusia untuk menentukan pilihan. Tapi, di sisi lain mereka berargumen seolah kaum homo dan lesbi itu sesuatu yang terjadi secara alamiah. Di dunia ini memang banyak paradoks!” pungkasnya lagi.

(*/Suryani Musi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.