Essay Weekend: Gadget dan Tanda Kiamat

images (1)

Ilustrasi. (Int)

SAYA membaca curhatan ini pas di atas kendaraan menuju kantor di pagi hari. Saya mendapatnya di sebuah group WA. Ditulis tanggl 23 Februari setelah shalat Duha atas kegalauan seorang dokter terhadap pasiennya. Dikirim oleh seorang senior di HMI.

Membacanya, shock rasanya. Saya meresponnya dengan kalimat singkat, Nauzubillahi min dsalik__kami berlindung kepada-Mu ya Allah dari hal itu. Semoga engkau menghindarkan kami…

Masih dalam fikiran tidak percaya, saya teringat anak laki dan perempuanku di rumah. Membayangkan mereka jika ini menerpanya. Bagaimana dengan istriku? Lalu saya bagaimana? Sanggupkah kami menghadapinya? Fikiran saya semakin liar kemana-mana.

Sudah separah inikah perilaku anak jaman ini? Inikah efek teknologi? Dan masih banyak lagi pertanyaan. Sejujurnya, Saya dihantui ketakutan luar biasa. “Allahu Akbar,” gumam saya.

Kisah ini terungkap Sabtu lalu. Saat itu, sepasang suami istri datang membawa anak gadisnya berusia 15 tahun seorang siswi SMP swasta di Citra Raya, kepada seorang dokter. Orang tua ini mengkonsultasikan sang anak yang tidak haid selama 2 bulan terakhir.

Sang dokter SpOG memeriksanya dengan USG dan ternyata anak gadis itu dinyatakan hamil. Belum yakin, tes urine pun dilakukan. Dan… positif! Sang gadis lugu siswi SMP Itu ternyata benar-benar hamil.

Kontan kedua orang tuanya shock dan bertengkar di depan dokter. Sang dokter sarankan agar mereka diskusikan di rumah karena sang dokter dengan tegas mengatakan bahwa dirinya tidak akan pernah melakukan curettage atau pengguguran kandungan kecuali atas indikasi medis untuk menyelamatkan nyawa sang Ibu. Di luar itu, tidak sama sekali. Semua tahu bahwa hal itu adalah suatu dosa dan tindak kriminal.

Dua hari berselang, suami istri tadi datang lagi kepada sang dokter memohon dengan amat sangat agar bersedia menggugurkan kandungan anak mereka.

Dokter pun kaget dan lemas saat kedua org tua itu mengaku bahwa anak kandung mereka sendiri yang telah menghamili adik kandungnya.

Bagai disambar gledek di siang bolong, dokter pun bertanya dengan lemas kenapa bisa begitu? ke mana orang tua saat anak-anak di rumah…?

Kedua orang tua ini mengaku bahwa anak kedua mereka, laki-laki berusia 16 tahun memang agak nakal. Dan mungkin karena pengaruh gadget. Di saat orang tua sibuk berjualan di lantai bawah ruko mereka, sang anak mungkin saja asyik menonton blue film di lantai atas.

Orang tua mana yang menyangka bahwa kakak beradik ini tega berbuat hal sekeji itu. Kedua orang tua memaksa dokter untuk membantu mereka.

Siapapun tahu bahwa INCEST (hubungan kelamin sedarah) akan berdampak pada cacat mental dan fisik pada bayi yang dilahirkan, seperti cacat fisik dalam semua jenis ketidak-normalan, maupun perkembangan mental yang cenderung menjadi idiot dalam banyak kasus.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah jika yang laki-laki adalah sang kakak, yang cenderung lebih bisa memaksa adik perempuannya. Astaghfirullah aladziim, Naudzubillah….Semoga Allah SWT melindungi anak-anak kita dari segala bentuk penyesalan sekarang, esok, dan selamanya. Aamiin.

Buat saya, kuat dugaan bahwa gadget adalah salah satu penyebab. Meski ini bukan satu-satunya. Fikiran ini muncul jika melihat fenomena pergaulan yang memang sudah tidak sehat. Berciuman di kalangan anak-anak SMP sudah bukan hal yang tabu lagi. Apalagi anak-anak SMA, terlebih Mahasiswa.

Saya teringat penelitian yang respondennya adalah siswa SMA dan mahasiswa yang menyebutkan mayoritas cara berpacarannya sudah seperti hubungan suami istri. Rasa malu memang sudah menjadi barang langka. Atau jangan-jangan, memang kiamat sudah dekat.? Wallahua’lam.

Kembali ke soal gadget. Penulis curhatan di WA ini mengaku telah menyingkirkan semua gadget dan perangkat internet dari anak-anaknya, sebagai upaya pencegahan. Upaya mendekatkan diri ke Rabb juga ditingkatkannya termasuk terus menerus mendoakan kebaikan untuk anaknya.

Dari curhatan ini, penulis tak lupa memberikan tips kepada kita semua sebagai langkah aktif dan antisipasi.

1. Pisahkan kamar tidur anak laki-laki dan perempuan sejak mereka berusia 3 tahun
2. Sita semua smart phone dan apapun yang bisa mengajar internet dari tangan anak-anak (harus tega!)
3. Jangan percayakan anak-anak kepada supir atau pembantu rumah tangga.
4. Paksa diri kita sebagai orang tua yang bertanggung jawab bahwa kita sebagai ayah atau ibu mereka bertanggung jawab penuh kepada Allah SWT atas apapun yang terjadi kepada anak kita.
5. Orang terdekat pun bisa menjadi sumber masalah, waspada lah!
6. Perbanyak waktu untuk ngobrol-ngobrol santai dengan anak-anak kita.

Mari mengajarkan anak lelaki dengan tanggung jawab dan keberanian mengambil keputusan, anak perempuan diajari arti kesucian diri dan menjadi wanita terhormat.

Uang bisa dicari, tapi Anak? Tak terbeli!!

Ditulis dan disadur kembali oleh Arum Spink*. 

IMG-20160220-WA0000

*Penulis merupakan anggota DPRD Provinsi Sulsel

Redaksi menerima tulisan berupa opini, cerpen, essay. Tulisan dikirim ke redaksi@liputanlima.com disertai foto terbaru penulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.