Cerita Seorang Bissu yang Mulai Tersingkir

y

Illustrasi seorang bissu

Makassar, LiputanLIMA.com – Puang Upe, salah seorang bissu dari Segeri Mandalle, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, terlihat risau ketika menceritakan regenerasi para bissu di masa mendatang. Puang Upe bertanya-tanya apakah masyarakat sekarang sudah lupa pada dewata yang memberikan mereka hidup?

Agaknya, masyarakat lokal daerahnya sudah mulai enggan untuk memesan mereka ketika melakukan ritual.

Puang Dalle menceritakan keberadaan komunitas bissu di Segerei yang kian menyusut dan terpinggirkan. Menurutnya, dulu masih ada 40 orang, lalu kemudian tinggal 12 orang.

Ada beberapa bissu yang dibunuh dan sebagian lagi melepas atributnya lalu berpindah profesi seperti petani dan menjadi perias pengantin.

Ia merasa, komunitasnya tidak mendapat keistimewaan lagi dari masyarakat. Mereka sudah tidak merasakan lagi hidup mewah bersama raja melainkan hidup mandiri dan menunggu sumbangan dari masyarakat yang akan menyelanggarakan adat. Yang menjadi masalah lagi adalah, upacara ritual jarang dilakukan sekarang ini.

“Tidak semua orang mampu menjadi bissu. Biasanya yang menjadi bissu akan mendapatkan panggilan gaib lewat mimpi. Setelah itu, orang yang mendapatkan mimpi tersebut, bisanya harus melapor pada pimpinan bissu atau puwang matowa untuk ditahbiskan,” kata puang Upe.

Perlu diketahui bahwa, Bissu memiliki dua elemen gender manusia yakni perempuan dan laki-laki. Artinya, bissu diperankan oleh laki-laki yang memiliki sifat perempuan. Mereka pun berpenampilan layaknya perempuan dengan tata rias feminin, namun beratribut maskulin.

Sebelum ajaran Islam ke Sulawesi pada abad XVII, bissu biasaya berperan penting pada acara adat, seperti pelantikan, kelahiran, kematian, dan pertanian. Dalam upacara tersebut, mereka menarikan Tari Mabisu atau tarian mistis dengan memutari benda yang dikeramatkan dan diyakini sebagai tempat roh leluhur istirahat.

Puncak dari tarian Mabbisu yakni gerakan maggiri, yakni menusukkan keris ke bagian tubuh, seperti perut, telapak tangan, dan tenggorokan. Masyarakat Sulawesi percaya, ketika bagian tubuh bissu ditusuk keris dan tidak berdarah, maka roh leluhur sudah dirasuki bissu. Dengan demikian masyarakat percaya permohonan mereka didengar oleh leluhur dan harapan dewata memberikan berkat kepada mereka.

Namun, pesatnya agama Islam di Sulawesi membuat peranan bissu mulai ditinggalkan. Bahkan, saat pemberontakan DI/TII yang dipimpin oleh Kahar Mudzakar, bissu-bissu tersebut dibunuh serta dipaksa untuk menjadi laki-laki sejati sesuai dengan ajaran agama, dilansir dari nationalgeographic.co.id, Sabtu (27/2/2016).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.