Makanan yang Menjauhkan Insomnia

imsom

illustrasi imsomnia

Makassar, LiputanLIMA.com – Insomnia menjadi salah satu penyakit yang banyak menyerang orang dewasa hingga lanjut usia. Sebagian besar di antara mereka merasa terganggu akibat jam tidur di malam hari yang tidak terkendali. Bagi mereka yang menderita insomnia, berikut solusi yang kami tawarkan.

Ada sebuah penelitian kecil terbaru dari American Academy of Sleep Medicine yang menawarkan beberapa saran tentang apa yang harus dimakan untuk mendapatkan kualitas tidur yang baik.  Makanan yang mengandung serat tinggi dan rendah lemak jenuh dikatakan sebagai makanan yang dapat memberikan kualitas tidur yang lebih baik.
Penelitian yang dipimpin oleh seorang profesor dari Colombia University Medical Center, mempelajari sebanyak 26 orang dewasa dan melihat pola tidur mereka selama lima malam.

Selama mereka diamati selama sembilan jam , para peserta rata-rata memiliki waktu tidur selama tujuh setengah jam pada setiap malamnya. Selama tiga hari, para peneliti juga mengontrol diet mereka dan kemudian mempelajari tidur mereka pada malam ketiga.

Setelah itu, para peserta penelitiam diizinkan untuk memilih makanan mereka sendiri untuk satu hari, para peneliti mempelajari pola tidur mereka pada malam hari juga.

Ketika para ahli gizi menyediakan makanan sehat yang rendah lemah dan tinggi protein, para peserta kemudian akan tidur dalam 17 menit setelahnya. Namun ketika para peserta memilih makanan mereka sendiri, hal tersebut menyebabkan waktu tidur mereka lebih lama dua kali lipat yakni hampir 30 menit untuk kemudian tertidur.

Makanan ringan yang mengandung gula, makanan rendah serat dan makanan dengan kandungan lemak jenuh yang tinggi semuanya menyebabkan tidur yang “kurang restoraif”, dan orang yang lebih sering terbangun pada tengah malam.

Mengingat bahwa para ahli gizi hanya memberikan waktu tiga hari dan satu hari bebas memilih makanan sebelum pergi tidur, para peneliti juga menyimpulkan bahwa satu hari dari pemilihan makanan yang buruk dapat mempengaruhi kualitas tidur. Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal Clinical Sleep Medicine, dilansir dari nationalgeographic.co.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.