Mengagamakan Konflik, Mengkonflikkan Agama

images (34)

Ilustrasi | Int

Oleh: Shamsi Ali

Ada perdebatan panjang di antara para ahli tentang apa yang secara umum diipersepsikan sebagai “konflik agama” (religious conflicts). Benarkah ada konflik agama? Atau agama sekadar terseret ke dalam konflik dengan motif yang berbeda?

Saya menilai keduanya memungkinkan. Ada konflik yang memang terpicu dan berdasarkan sentimen agama. Tidak harus berdasarkan ajaran agama. Tapi sentimen beragamalah yang menjadi dasar konflik tersebut.

Sejarah panjang mengajarkan bahwa persentuhan antara sentimen agama dan berbagai kepentingan kerap kali tidak terhindarkan. Bahkan pada komunitas-komunitas maju dan (merasa) terdidik (educated). Bahkan di zaman di mana manusia merasa lebih modern dan beradab (civilized).

Kita ambil saja contoh bagaimana resistensi umat lain atau komunitas lain kepada Rasulullah SAW di Madinah. Umumnya bukan karena agama. Tapi lebih kepada “social jealousy” atau kecemburuan sosial.

Contoh terdekat barangkali adalah resistensi komunitas Yahudi di Madinah kepada Rasulullah SAW. Mereka sesungguhnya menentang karena apa yang Al-Quran sebutkan: “hasadan min anfusihim” (kedengkian yang ada pada mereka). Kedengkian (hasad) ini sebenarnya lebih dipicu oleh kecemburuan sosial karena minimal dua hal: 1) karena nabi terakhir ini terlahir bukan dari kalangan mereka. 2) karena Muhammad SAW segera mendapat dukungan maksimal dari masyarakat Arab yang sebelumnya sangat menghormati komunitas Yahudi.

Pembantaian komunitas Yahudi di Eropa sesungguhnya, bukan karena agama. Tapi lebih karena komunitas Yahudi di Eropa, sebagai minoritas, berhasil membangun basis perekoniman yang solid. Fenomena inilah yang menjadikan komunitas Kristen mayoritas mengalami apa yang disebut “majority insecurity complex”.

Yaitu perasaan yang menghantui pihak mayoritas untuk kehilangan posisinya sebagai kelompok terbanyak. Tentu dengan asumsi bahwa jumlah yang banyak itu juga harusnya identik dengan “kekuatan”, termasuk kekuatan ekonomi.

Hitler sadar betul momentum itu. Dia berhasil membakar ketakutan itu menjadi kekuatan dahsyat. Dan akibatnya terjadilah apa yang disebut dalam sejarah dengan “Holocoust” atau pembantaian masyarakat Yahudi di daratan Eropa.

Hingga detik ini berbagai konflik dunia yang beranakkan berbagai organisasi radikal dan teroris, termasuk Al-Qaidah, ISIS, Boko Haram, Al-Shabab, atau KKK dan organisasi teroris Irlandia Utara, semuanya memiliki latar belakang non agama. Agama hanya menjadi bumper atau kendaraan di kemudian hari dalam mengejar kepentingan terkait.

Ambillah contoh terakhir ISIS. Organisasi teroris ini adalah bentukan atau tepatnya terbentuk sebagai “special design” pihak-pihal yang punya kepentingan di Timur Tengah dan sekutunya di Barat. Saya melihat ada dua kepentingan besar dan berbeda dalam hal ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.